Merpati Putih dan Penelitian Ilmiah

Tahun 1973

Kerjasama dengan penelitian dan pengembangan Akademi Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Udara dan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penelitian mengenai Perbandingan Latihan Metode Merpati Putih dengan Metode Aerobics DR. Cooper terhadap Kesegaran Jasmani.
Obyek Penelitian :
– 20 orang Taruna dilatih dengan metode DR. Cooper
– 20 Orang Taruna dilatih dengan metode Merpati Putih.
Cara Penilaian
– Sesuai dengan penilaian dari DR. Cooper yang inenilai kemampuan aerobics yaitu kemampuan sistem respirasi dan kardiovaskuler
– Aerobics dan Margaria, yaitu menilai kemampuan otot-otot untuk bekerja secara anerobics
– Mengukur Timed Vital Capacity untuk menilai sifat kelenturan jaringan paru-paru.
Kesimpulan
1. Kelompok taruna yang dilatih dengan metode Merpati. Putih yang latihan aerobic-nya kurang, berhasil menyamai kelompok Taruna dengan Metode Aerobics DR. Cooper.
2. Waktu untuk berlari menempuh jarak 1600 meter serta Timed Vital Capacity antara kedua kelompok tidak ada perbedaan.
3. Dari peengamatan yang telah dilakukan ini dapat diduga bahwa metode latihan Merpati Putih tidak inenimbulkan suatu kelainan yang bersifat merugikan / mengganggu kesehatan.
4. Kelebihan dari metode Merpati Putih dapat inenarnbah keinampuan
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. DR. Achmad Muhammad dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Jogyakarta.
Tahun 1983
Kerjasama dengan Pusat Jasmani Militer Komando Pengembangan Pendidikan dan Latihan TNI AD. Penelitian tentang Latihan Pernafasan Merpati Putih untuk mendapatkan daya tahan, menghimpun serta penyaluran tenaga.
Obyek Penelitian :
Prajurit TNI AD yang dilatih metode Merpati Putih selama satu tahun penuh.
Cara Penilaian
Cara penilaian diarahkan pada faktor pendukung peningkatan kemampuan jasmani, yaitu
1. Unsur Postur Tubuh
2. Unsur Kesegaran Jasmani
3. Unsur ketangkasan
Kesimpulan
1. Latihan Pernafasan Merpati Putih perlu disebarluaskan dilingkungan TNI AD khususnya dan ABRI pada umumnya.
2. Program latihan pernafasan sangat ekonomis, efisien dan efektif karena tidak menuntut sarana, prasarana, waktu dan biaya yang mahal.
Tahun 1984
Bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina Jakarta. Penelitian tentang Manfaat latihan Merpati Putih untuk meninggikan kesiagaan Fisik Mental.
Obyek Penelitian
– 5 Orang wanita, berumur antara 25 – 35 tahun
– 19 orang pria, berumur antara 29 – 42 tahun
Cara Penilaian
– Kemampuan Aerobics dinilai dari bilangan nadi, sesudah objek penelitian coba melakukan kerja selama 6 menit dengan beban 100 W (wanita) dan 125 W (Pria) dengan mendayung ergometer Sepeda Listrik (Eleina Schonander) .
– Kekuatan statik otot, dengan mengukur kuat genggam tangan kanan dan kin pada Dinamometer Genggam TTK.
– Daya pernafasan, dengan mengukur kekuatan otot pernafasan
  1. MBC (kemampuan bernafas maksimum) dengan frekuensi pernafasan 60 (wanita) dan 50 (pria).
  2. VC (Kapasitas Vital).
  3. FEV (penghembusan nafas paksa dalam satu detik).
– Daya Konsentrasi dan reaksi (Psikofisiologis) dengan 3 jenis, yaitu
a. Ukuran Kesiagaan Mental (Bourdon Wiersina)
b. Waktu Reaksi
c. Frekuensi kedip kritik (ukuran kesiagaan sentral )
Kesimpulan
1. Semua fungsi fisiologis dan psikologis kecuali waktu reaksi dan frekuensi kedip kritik, inenunjukkan kenaikkan (perbaikan).
2. Hal yang ditonjolkan sebagai suatu ciri khas latihan Merpati Putih, ialah latihan-latihan kerutan otot secara isometrik, yang di harapkan akan menaikkan kekuatan otot. Agaknya dapat dibuktikan dari perbaikaan MBC (kemampuan bernafas Maksimum), VC (Kapasitas Vital) dan FEV (Penghernbusan nafas paksa dalam 1 detik), disamping penambahan kekuatan genggam tangan.
Tahun 1985
Bekerjasa sama dengan Batalyon Infantri 203/Arya Kamuning.
Obyek Penelitian
Seluruh anggota Batalyon Infantri 203/Arya Kamuning dilatih dengan menggunakan metode Merpati Putih selama 5 bulan, dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu @ 90 menit.
Kesimpulan
1. Kemampuan kesegaran jasmani meningkat
2. Kemampuan ketrampilan perorangan ikut meningkat, terbukti Prestasi Yon If. 203 dalam lomba serangan batalyon Seluruh Indonesia (1985) berhasil keluar sebagai juara Pertaina dengan mencatat waktu lebih cepat dari yang ditetapkan.
Tahun 1987
Bekerjasama dengan Yayasan Jantung Sehat dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Penelitian dipimpin oleh Dr. Dede Kuswara
Obyek Penelitian
– 2 Orang Tingkat Dasar Dua dengan usia 60 tahun keatas
– 2 Orang Tingkat Balik Satu dengan usia 40 – 55 tahun
– 2 Orang Tingkat Balik Dua dengan usia 30 – 40 tahun
Obyek coba diminta untuk mengadakan latihan Merpati Putih selama 60 (enampuluh) menit, kemudian diteliti tingkat kesegaran jasmani dan pemulihan kembali pada kondisi fisik semula.
Kesimpulan
1. Tingkat kesegaran dinyatakan baik dan meningkat
2. Pemulihan kondisi fisik ke keadaan semula relatif cepat.
Tahun 1990 – Sekarang

Bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan ISTN Jakarta. Sampai saat mi masih diteliti tentang Explosive Power.

 

Iklan

Teknik memukul benda keras ala Merpati Putih

Oleh Mas Ferry Hendarsin (Pelatih Nasional Merpati Putih)
Teknik mematahkan dan memecahkan benda keras tidak lagi identik dengan Karate seperti halnya di tahun 70- 80-an. Hal ini terjadi karena pada sekitar tahun 70-an salah satu perguruan silat juga melakukan teknik pemukulan benda yang diikuti juga dengan perguruan-perguruan lainnya. Pematahan dan pemecahan dapat dijelaskan secara lebih ilmiah, sebagai berikut :

Benda Keras

Contoh, benda keras, balok beton dengan panjang 40 cm, lebar 15 cm, dan tebal 5 cm. Bila kedua ujung beton ini disangga dan dipukul titik tengahnya maka diperlukan energi sembilan joule, hal ini sama dengan energi benda yang dihasilkan bila benda seberat satu kg dijatuhkan dari ketinggian 90 cm. Walaupun balok beton ini kelihatan keras dan kaku, namun menurut ilmu mekanika balok beton memiliki sedikit kelenturan. Demikian pula dengan balok es, kikir atau lempengan besi baja. Per mobil termasuk mempunyai kelenturan yang lebih tinggi. Kelenturan sangat mempengaruhi proses patahnya benda dan proses tumbukan antara tangan dan benda.

Tangan
Tangan dibagi atas telapak, hasta, pergelangan, dan siku. Pada proses tumbukan sebagian tenaga terserap oleh kelenturan otot. Secara sederhana dibayangkan bahwa tenaga yang diserap oleh perubahan bentuk otot menyerupai dengan tenaga untuk membengkokkan lengan seseorang yang sedang dikejangkan. Sejumlah tenaga pada proses tumbukan telah digunakan untuk mengubah bentuk otot pada sisi telapak serta otot-otot lainnya pada telapak, pergelangan, dan siku. Tulang manusia sebenarnya sangat kuat, menurut ilmu mekanika, tulang manusia dapat menanggung kerapatan gaya (stress) sampai empat puluh kali lipat dibandingkan beton.

Tumbukan
Menurut Newton gaya yang terjadi adalah sama dengan massa benda dikali percepatan. Pada waktu tangan menumbuk benda, kecepatan tangan berubah dari kecepatan maksimum menjadi berhenti karena menumbuk benda. Makin besar perubahan kecepatan (perlambatan), makin besar pula gaya yang dihasilkan. Menurut percobaan Feld, Nair, dan Wilk, perlambatan ini dapat mencapai 3.500 meter per detik kuadrat, sehingga mampu menghancurkan beton. Pada saat beton tertumbuk, bentuknya berubah menjadi melengkung. Karena bentuknya melengkung maka bagian atas dari beton menjadi pendek, sedangkan bagian bawah menjadi panjang. Pertambahan panjang bagian bawah menimbulkan gaya tarikan sampai pada suatu saat di mana kerapatan gaya yang terjadi melampaui ambang kerapatan gaya ( breaking stress) beton. Pada saat itulah bagian bawah beton pecah. Sedikit sisa tenaga pada tangan sudah cukup untuk melanjutkan pemecahan beton sampai ke permukaan atasnya.

Pemukulan Benda Keras
Ada beberapa faktor yang menentukan dalam pematahan benda keras. Pertama adalah faktor benda yaitu ukuran, bentuk, elastisitas, dan ambang kerapatan gaya dari sasaran. Kedua adalah faktor pemukul, dalam hal ini adalah tangan manusia. Lebih rinci lagi bila tangan dibagi atas berat, kecepatan, dan kekakuan/kekuatan otot. Melalui latihan yang terencana, teratur, dan terarah seperti aerobik dan anaerobik dengan metode-metode tertentu otot akan terlatih menjadi cepat, kuat, dan liat. Sehingga pukulan untuk pematahan yang dilakukan akan menghasilkan lebih banyak gaya mekanis dan mengurangi kerugian akibat perubahan bentuk pada saat terjadi tumbukan. Untuk meningkatkan kemampuan teknik mematahkan benda keras harus dikembangkan teknik teknik yang dapat mengurangi kerugian akibat perubahan bentuk tangan, seperti misalnya punggung siku datar (tangan ditekuk perkenaannya adalah punggung siku tangan). Dengan punggung siku maka kerugian akibat perubahan bentuk tangan dan punggung tangan dapat dikurangi. Selain itu harus pula meningkatkan kecepatan pukulan supaya didapat gaya yang lebih besar.

Sadar Tidak Sadar

Oleh Mas Boy Syahputra

Coba perhatikan kedua gambar dibawah ini :

Apa kesamaan dan perbedaan dari kedua gambar tersebut? Kesamaan kedua gambar tersebut menunjukkan bahwa seorang anggota Merpati Putih mempunyai kemampuan untuk melakukan pemukulan/pematahan benda keras tanpa harus merusak atau mematahkan objek diatasnya.
 Terus apa yang menjadi perbedaan dari kedua gambar tersebut. Ya jelas satu orang Amerika yang satu orang Indonesia 🙂 tapi bukan itu perbedaan yang ingin penulis sampaikan. Gambar atas adalah Mas Mike Zeleznick dari MP USA yang telah mempelajari MP lebih kurang 10 tahun dan sekarang telah mencapai tingkatkan Khusus 1, beliau mampu melakukan pukulan tersebut dengan sadar atau dengan kata lain beliau dapat menentukan tegel nomor berapa yang ingin dia patahkan tanpa mematahkan tegel lainnya.
Gambar bawah adalah penulis ketika gambar ini diambil, penulis masih ditingkat Dasar 2 lebih kurang 12 tahun yang lalu dan dapat dilihat penulis dapat melakukan pemukulan punggung siku kebawah tanpa merusak/mematahkan beton yang diatasnya. Padahal ketika itu penulis diminta untuk melakukan punggung siku dengan sasaran 2 beton dan secara tidak sadar penulis hanya mematahkan beton bagian bawah saja dan saat itu tanpa tahu sebabnya kenapa hanya beton yang dibawah saja yang patah.
Untuk memahami kenapa kedua hal diatas dapat terjadi, seorang anggota Merpati Putih harus tetap berlatih untuk mengasah keilmuannya karena untuk memperoleh hasil yang luar biasa seorang anggota Merpati Putih tidak akan memperoleh hasil yang diinginkan kalau hanya latihan biasa-biasa saja. Selalu berlatih dan bertanya kepada pelatih mengenai ilmu yang dilatih supaya tidak salah jalan atau akan menjadi kecewa karena ilmu yang dilatih tidak berhasil.
Kesimpulan sederhana yang dapat diambil dari kedua gambar diatas adalah SETIAP ANGGOTA MERPATI PUTIH MEMPUNYAI KEMAMPUAN YANG LUAR BIASA DITINGKAT APAPUN DIA, YANG MEMBEDAKANNYA ADALAH MASA LATIHAN DAN PEMAHAMAN AKAN KEILMUAN MERPATI PUTIH. Selamat Berlatih Saudara-saudara MP-ku.

Perkembangan Pencak Silat di Jepang

Mas Ipung (Yuli Purwanto), itulah sebutan akrabnya di dunia silat baik di Japsa (Japan Pencak Silat Association) maupun aliran spesialisnya Merpati Putih. Di Jepang, secara de-facto ia telah merepresentasikan Indonesia, melalui aktifitas seni beladirinya, masyarakat Jepang telah mengenalnya, baik dalam even-even sosial budaya maupun di media cetak dan layar televisi.

 

MP Jepang : Ki-Ka  Mas Dicky Arisalfa, Mas Danardono Antono, Mas Ipung, Mas Berin Lee, Mas Nathaniel York

Seni beladiri telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan, sangat melekat, sehingga semua tutur kata dan tindakannya, menggambarkan ajaran filosofis dunia perguruan beladiri yang mengedepankan kesatriaan, kejujuran, kesederhanaan dan kekompakan.

Ia adalah aset bangsa yang bisa dijadikan ikon diplomasi informal. Dengan aktifitasnya, ia membantu mempopulerkan Indonesia yang pada akhirnya memberi kontribusi positif terhadap persahabatan nyata dengan masyarakat Jepang. Tanpa disadari, jalur informal yang ia sumbangkan telah membentuk kesan yang sangat baik tentang Indonesia bagi masyarakat Jepang.

Tiba di Jepang sekitar 15 tahun lalu, ia mulai aktif di Japsa menjadi silat yang kala itu dirintis oleh Both Sudargo, aktifis seni bela diri yang sedang ditugaskan sebagai Atase Perhubungan di Kedutaan Besar RI di Tokyo.  Bersama-sama dengan rekannya, Mas Soesilo, yang memiliki latar belakang aliran Perisai Diri, Mas Ipung terus menghidupkan beladiri silat warisan nenek moyang Indonesia tersebut.

Perjalanan yang sangat panjang, pasang surut dengan segala permasalahan dan keterbatasannya, ia tetap tegar menjalaninya. Setiap hari Kamis ia melatih di perguruan silat yang tergabung dalam Japsa dan pada Jumat, ia melatih murid-murid yang memiliki kecenderungan dengan Merpati Putih, seni beladiri yang menekankan
kepada kekuatan tenaga dalam melalui olah  pernafasan yang khas. Semuanya dilakukan di Balai Indonesia, Tokyo dan muridnya sangat bervariasi, masyarakat Jepang, Indonesia bahkan dari Amerika dan
Irlandia juga giat berlatih teknik-teknik tenaga dalam.

Sebelum menetap di Tokyo, Mas Ipung telah melanglang buana ke berbagai negara seperti Caledonia, Perancis, Malaysia dll.   Ia juga sempat menjadi pelatih di Kopasus (Komando Pasukan Khusus) TNI. Baginya, membagi ilmu adalah suatu kewajiban, karena ilmu yang bermanfaat ia yakini memberikan efek positif terhadap orang yang memberikannya.

llmu Merpati Putih diwariskan secara turun-temurun pada masa Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat\ Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro di lingkungan keluarga. Latar belakang didirikannya PPS Betako Merpati Putih adalah hasil pengamatan Sang Guru, Saring Hadi Poernomo pada awal tahun 1960-an yang prihatin terhadap perkembangan kehidupan generasi muda yang terkotak-kotak membentuk kelompok-kelompok yang mencerminkan rapuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah milik bangsa Indonesia, oleh karena itu setiap warga negara Indonesia mempunyai tanggung jawab, hak, dan
kewajiban yang sama dalam melestarikan kehidupan bangsa dan mencapai tujuan negara. Seni budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, kepribadian bangsa, mempertebal harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa persatuan.

Atas dasar hal tersebut tergerak hati nurani beliau untuk berbuat sesuatu demi kecintaannya pada nusa, bangsa, dan negara. Sumbangsih beliau hanya didasari keyakinan bahwa “sikap dan perbuatan sekecil apapun, apabila dilandasi oleh itikad baik pasti akan ada hasilnya”. Keyakinan tersebut hingga kini menjadi semboyan perguruan yaitu: SUMBANGSIHKU TAK SEBERAPA NAMUN KEIKHLASANKU NYATA

Sumber :  http://inasport.com/komunitas/435-perkembangan-pencak-silat-di-jepang.html

MELIHAT TANPA MATA

Interview terakhir Alm Mas Budi dengan Majalah INTISARI tahun 1999.

Selain mata, manusia rupanya diberi “indera penglihatan kedua”. “Mata kedua” itu bisa berupa ujung hidung atau ujung telinga, sentuhan tangan, ujung jari, atau ujung siku. Dengan latihan tertentu, seorang tunanetra bahkan mampu “melihat” seperti halnya orang biasa.

Suatu hari di tahun 1945 seorang pria bernama Kuda Bux menunggangi sepeda, lalu mengayuhnya, menembus lalu lintas New York. Ia menerobos Times Square yang ramai, dan akhirnya tiba di tempat tujuan, tanpa celaka sedikit pun. Tampaknya, itu peristiwa biasa. Namun ternyata ia melakukannya dengan mata tertutup rapat. Bagaimana ia bisa “melihat” arah tujuannya? Pertanyaan yang tetap belum ditemukan jawabannya itulah yang membuat Bux terkenal pada 1930 – 1940-an.

Jauh sebelum itu ilmuwan Irlandia Robert Boyle (1627 – 1691) menemukan kasus tentang seorang pria yang dapat mengenali warna lewat sentuhan tangannya. Kemudian pada tahun 1893 beberapa dokter di Brooklyn, New York, menceritakan bagaimana Mollie Fancher yang tunanetra membaca buku cetak standar – bukan berhuruf braille – dengan ujung jarinya.

Pada saat bersamaan di Italia ahli saraf dr. Cesare Lombroso mengamati gadis tunatera berusia 14 tahun yang dapat “melihat” dengan telinga kiri dan ujung hidung. Ketika Lombroso mencoba menusuk hidungnya dengan sebatang pinsil, gadis itu tersentak menyingkir dan menangis, “Kamu ingin membuatku buta, ya?”

Orang abnormal
Kasus-kasus ajaib itu menantang ilmuwan Prancis, Jules Romains. Setelah bertahun-tahun meneliti, pada 1920 Romains menerbitkan risalah panjang berjudul Eyeless Sight. Ia mencatat, beberapa subjek “melihat” tanpa menjalin kontak dengan objek sasaran, tapi ada juga yang menggunakan alat berupa ujung jari, pipi, bahkan perut. Meski karyanya itu sedikit sekali ditanggapi oleh kalangan kedokteran, kasus yang lalu ia sebut kemampuan pandang paroptik atau setingkat dengan mata itu beberapa kali menjadi berita utama.

Perhatian kalangan ilmiah terhadap fenomena itu baru muncul setelah tahun 1963, ketika peneliti kesehatan Rusia melaporkan kasus Rosa Kuleshova. Dalam beberapa penelitian yang diawasi ketat, Rosa yang benar-benar tidak dapat melihat dapat membaca koran dan catatan lagu dengan ujung jari dan siku tangannya.

Penelitian terhadap Rosa membangkitkan minat dr. Richard P. Youtz, psikolog di Columbia University, New York City. Saking penasaran, ia melakukan sendiri beberapa tes. Kesimpulannya, Rosa dan yang lainnya adalah orang yang sensitif abnormal terhadap jumlah panas yang diserap oleh warna yang berbeda.

Membaca tanpa mata bisa dilakukan karena cetakan hitam menyerap lebih banyak panas dan terasa lebih hangat dibandingkan sekelilingnya yang putih, yang lebih efisien dalam memantulkan panas. Pertimbangan itu masuk akal untuk orang yang dapat “melihat” dengan ujung jari atau siku. Tetapi bagaimana dengan fenomena Kuda Bux yang dapat melihat benda tanpa menyentuhnya?

Bagi Budi Santoso Hadi Poernomo, pewaris dan guru besar PPS Betako Merpati Putih, fenomena seperti itu mudah dijelaskan menggunakan “ilmu getaran”. Ilmu yang mulai dikembangkan sejak 1970-an – 1987 ini sebenarnya metode pembinaan latihan pernapasan. Menurut generasi ke-11 dari Pangeran Prabu Amangkurat dari Kerajaan Mataram pada abad XVII di Kartosuro, Jawa Tengah, yang menciptakan betako Merpati Putih ini, dengan ilmu getaran seseorang akan mampu menangkap berbagai macam getaran dari benda apa pun, bahkan yang tidak tertangkap oleh kelima indera fisik. Misalnya, getaran otak atau makhluk halus.

Manfaat ilmu itu ialah untuk mendapatkan tenaga yang lebih kuat, terutama saat melaksanakan tugas yang dianggap tidak mungkin dilakukan dalam keadaan biasa. “Misalnya, dengan mata tertutup dan konsentrasi orang mampu menebak benda yang tersembunyi, atau menembak sasaran dengan tepat dari jarak jauh,” ujar Budi yang bersama kakaknya, Poerwoto Hadi Poernomo, mendirikan PPS Betako Merpati Putih pada 2 April 1963 di Yogyakarta.

Lebih cepat dari detektor isotop
Kemampuan itu sebenarnya sudah dimiliki oleh setiap orang, namun sering tidak disadari. Misalnya, pada hubungan batin antara ibu dan anak. Saat si anak sakit, sang ibu bisa merasakan padahal keduanya berada di tempat terpisah yang berjauhan.

Kemampuan ini disebabkan oleh adanya medan listrik yang menyelubungi tubuh manusia, yang lebih dikenal sebagai aura atau prana. Karena itu, seluruh bagian tubuh bisa digunakan untuk mengenali getaran dari benda-benda di sekitar. Kemampuan dasar ini bisa dilatih agar makin kuat listrik dan kepekaannya. Makin kuat listriknya, makin luas medannya, maka makin luas pula jangkauannya. Ketebalan aura bisa dilihat dengan melakukan pemotretan fotografi Kirlian. “Sering terjadi, anggota Merpati Putih yang menjalani pemotretan ini sinar auranya memenuhi lembar (kertas) foto,” kata Budi.

Namun, meski semua orang – asalkan telaten berlatih – bisa mempelajari dan mendapatkan kemampuan itu, ada orang-orang tertentu yang berbakat bisa memiliki kemampuan yang lebih besar.

Contoh hubungan batin ibu-anak itu juga menjelaskan, kemampuan itu tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Dengan menumpang medan magnet bumi, kemampuan itu bisa mencapai sasaran yang lebih jauh. Itulah mengapa kemampuan itu bisa digunakan untuk membantu penyembuhan jarak jauh dengan getaran.

Pembuktian adanya kemampuan itu pernah dilakukan melalui uji deteksi nuklir atau radiasi dari isotop yang disembunyikan. Saat itu petugas Batan menggunakan detektor, sedangkan anggota Merpati Putih mengandalkan getarannya. Sebelum mencarinya, jenis getaran isotop sudah dipelajari lebih dulu. Mereka memulai pencarian bersama-sama, namun menurut Budi, anggota Merpati Putih lebih cepat menemukannya. Sebab, detektor baru menangkap gelombang dalam radius 0,5 m, sedangkan “ilmu getaran” mampu mengetahuinya dalam jarak 15 m. Padahal saat itu kedua mata anggota Merpati Putih dalam keadaan tertutup rapat.

“Tapi keadaan itu justru menguntungkan karena konsentrasinya menjadi kuat. Selain itu, mengurangi energi yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan, misalnya ke mata,” papar Budi. Tak cuma untuk mencari isotop, ilmu getaran bisa dipakai untuk melacak benda apa pun yang tersembunyi. “Maka ilmu ini sangat bermanfaat untuk mencegah penyelundupan obat terlarang, narkotika, atau benda apa pun,” akunya.

Uji coba lain yang pernah dilakukan adalah: anggota Merpati Putih yang sebelumnya tidak pernah jadi kiper, menepis tendangan penalti. Dari 50 tendangan yang mengarah ke gawang, hanya empat yang mampu membuahkan gol. Artinya, 92% tendangan berhasil ditepis si “kiper” yang ditutup kedua matanya. Kiper biasa akan mengandalkan indera mata untuk menilai gerak-gerik penendang, namun “kiper” Merpati Putih akan membaca langsung getaran otak si penendang yang berisi rencana ke mana bola diarahkan. “Maka data yang diperoleh lebih banyak dan akurat, sehingga ia tidak mudah tertipu oleh gerak-gerik penendang,” ujar Budi yang berperawakan subur.

Juru foto tunanetra
Pada tahun 1987 Budi memperkenalkan “ilmu getaran” ini kepada tunanetra. Mula-mula ia mengajarkannya kepada beberapa tukang pijat tunanetra. Sebelumnya, usai berlatih, setiap orang mendapat ganti rugi ongkos pijat selama satu jam karena waktu yang terbuang. Namun, 2 – 3 bulan kemudian setelah merasakan manfaatnya, mereka tetap berlatih meski tanpa dibayar.

Dari situlah kemudian terselenggaralah latihan untuk para tunanetra dari 12 kota di wilayah Jawa dan Bali secara gratis. Ia berusaha mengumpulkan dana untuk penyelenggaraan itu mengingat sebagian besar tunanetra berasal dari kalangan ekonomi lemah. Saat ini kegiatan itu dihentikan untuk sementara waktu karena ketiadaan dana. Yang terselenggara adalah program swasembada yang dinamai The Mission Impossible. Program ini bertujuan melatih tunanetra agar dapat seperti orang normal.

Program untuk tunanetra itu mencakup tiga tahap pelajaran. Tahap pertama orientasi mobilitas, kedua belajar mendeteksi benda, dan tahap terakhir mendeteksi huruf serta warna. Masing-masing tahap selesai dalam waktu enam bulan. Maka, setelah belajar selama 18 bulan peserta dapat menghindari rintangan yang ada di jalan, membedakan antara benda diam dan benda bergerak, mengenali kecepatan dan jarak, serta menyatakan ukuran benda tanpa melakukan sentuhan. Selain itu, peserta juga mampu membaca dan menulis tanpa huruf braille. Bahkan juga membaca teks di layar komputer, koran, dan lainnya.

Seorang tunanetra anggota Merpati Putih pernah bikin seorang sopir taksi terheran-heran karena mampu menunjukkan arah perjalanan. Dari Pulogadung anggota yang tunanetra itu bermaksud pergi ke Wisma Pertamina di Kemang, Jakarta Selatan, dengan naik taksi. Ketika mendekati daerah tujuan, si penumpang berkata, “Jalan ini terus, lalu rumah joglo di depan itu maju sedikit.”

Dalam Merpati Putih yang telah mendapat hak paten pada April 1998, membedakan warna dari jarak jauh dengan mata tertutup konon bisa dilakukan. Setiap warna, kata Budi, memiliki panjang gelombang yang berbeda. Benar bila dikatakan bahwa perbedaan ditentukan oleh panas, namun panas akan mengejawantah menjadi getaran. Beda panas berarti pula beda panjang gelombang. Dengan hanya mengandalkan panas, pembedaan hanya bisa dilakukan dari dekat. Untuk melihat dari jauh, yang ditangkap adalah panjang gelombangnya.

“Selain itu perlu kepekaan tinggi karena perbedaan panjang gelombang sinar putih, hijau, dan biru sangat kecil, hanya sepersekian puluh Angstrom atau sepersekian miliar meter. Padahal sampai sekarang pun belum ada alat buatan manusia yang mampu melakukan pekerjaan itu,” jelas Budi. Bayangkan saja, di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan 120 km/jam, seorang tunanetra anggota Merpati Putih lain mampu menjawab dengan tepat warna apa yang ada di kiri-kanannya.

“Tidak heran pula, jika anak saya yang buta warna setelah berlatih ilmu ini bisa diterima kuliah di jurusan arsitektur,” ujar Budi memberi contoh bagaimana kemampuan itu tak cuma mampu membuat mereka lebih mandiri, namun diharapkan juga bermanfaat meningkatkan harkat hidup mereka.

Ia mencontohkan lagi, di Bali sudah ada tunanetra yang jadi pemahat. Bahkan uniknya lagi, ada yang berprofesi sebagai tukang foto. Saat memotret, menurut Budi, ia tidak mengintip dari jendela bidik. Kamera bisa ia pegang pada posisi yang ia suka namun sasarannya selalu tepat. Anehnya lagi, si juru foto yang tunanetra itu bisa mengatur susunan objek foto, apakah harus maju sedikit, lebih merapat, atau posisi lainnya.

Bagi Budi pengalaman menunjukkan, melatih tunanetra lebih mudah dibandingkan orang biasa. “Tentu karena mereka (tunanetra) sudah terbiasa mengandalkan inderanya di luar penglihatan, apakah telinga, tangan, atau penciuman.”

Tak heran bila anggota Merpati Putih yang bukan penyandang tunanetra, sesuai kurikulum baru akan menguasai “ilmu getaran” dalam waktu tiga tahun, sedangkan yang tunanetra langsung diajari ilmunya. “Merpati Putih memberi latihan sesuai kebutuhan. Artinya, yang tunanetra sangat membutuhkan ilmu getaran agar dapat bergerak normal. Bagi yang normal ilmu getaran hanya penunjang agar bereaksi lebih cepat dalam bela diri,” papar Budi.

Kemampuan itu konon bersifat abadi. Bagi yang tunanetra, menurut Budi, kemampuan yang dimiliki akan terjaga karena dipakai setiap saat. Buat orang biasa, kalaupun tidak rajin berlatih, kemampuannya tidak akan hilang meski mungkin kualitasnya menurun atau tidak selancar dibandingkan dengan yang rajin berlatih. (Shinta Teviningrum)

http://www.indomedia.com/Intisari/1999/Mei/melihat.htm

Sudah Tingkat (strip) Apa Mas/Mba?

Sudah strip (tingkat) apa Mas/Mba? Mungkin pertanyaan ini lah yang sering muncul kalau sesama anggota Merpati Putih berjumpa. Dan mungkin ada yang ngejawab “harusnya sih udah Kombinasi Satu tapi tahun lalu ngak ikut ujian”, “ada juga yang ngejawab wah saya anggota lama kayaknya udah lupa stripnya”, “ah ada aja mas, rahasia!”, dan tentu aja yg ngejawab dengan jujur. Pertanyaan ini sebenarnya akan terjawab dengan jelas dengan melihat strip yang ada di sabuk anggota yang ditanya tapi kita bisa melihat ada anggota yang menyembunyikan strip diantara lipatan sabuk atau ada juga yang memang tidak ada stripnya tapi kita bisa kenal pasti kalau anggota tersebut adalah anggota lama.

Ada juga anggota yang ragu-ragu dan berpikir lama kalau mau ngejawab pertanyaan tersebut karena mereka bingung harus ngejawab apa kepada lawan bicara mereka, mereka takut kalau kalau menjawab sudah strip yang level tinggi nanti jika lawan bicara melihat kemampuan teknik mereka rendah/tidak sesuai dengan harapan lawan bicara mereka maka yang anggota yang ditanya akan malu tapi jika dikatakan stripnya masih rendah anggota tersebut takut direndahkan oleh lawan bicaranya.
Dari pengamatan penulis juga melihat kalau dalam perkelahian bebas sering kali yang namanya label strip menjadi pudar. Kenapa? Banyak kita lihat ada anggota junior mengalahkan seniornya atau ada tingkatan balik satu bisa mengalahkan tingkat kombinasi satu (versi IPSI karena dalam perkelahian bebas ala MP berdasarkan tingkatan). Penulis melihat ada kecenderungan di sebagian anggota yang apabila sudah mencapai tingkatan tertentu terutama yang sudah Kombinasi satu keatas sudah jarang untuk berlatih lagi minimal latihan sendiri di rumah dan inginnya hanya melatih anggota dibawahnya serta hanya ingin aktif di organisasi saja. Padahal keilmuan tidak seperti itu yang namanya ilmu harus selalu digali, dilatih, dilatih dan dilatih dan tentunya ada bimbingan dari pelatihnya dan ini tidak bisa hanya dilihat dengan tingkatan atau strp yang digunakan oleh anggota.
Tapi terlepas dari itu semua, untuk mengejar tingkatan/strip adalah bukan hal yang salah tapi memang merupakan keharusan bagi anggota Merpati Putih sehingga akan dapat dilihat hasil latihan yang di dapat selama proses latihan. Tapi yang menjadi salah ada sebagian dari anggota hanya mengejar strip hanya untuk memperoleh kebanggaan supaya dihargai oleh anggota lainnya karena sudah tinggi tingkatnya atau sudah bisa dibilang senior di cabangnya.
Untuk itu dalam proses latihan Merpati Putih harus ada proses yang berketerusan dan meraih tingkatan tinggi adalah hal yang wajar. Harus adanya keseimbangan ilmu dengan strip yang digunakan sekarang sehingga kita akan menjadi nyaman dengan apa yang kita dapat, kita punya dan kita sandang yang tentunya dari segi keilmuan Merpati Putih dapat kita pertanggungjawabkan.
Belajar Merpati Putih tidak ada istilah tamat atau sudah habis untuk belajar. Mempelajari Merpati Putih sama seperti mempelajari ilmu-ilmu yang lain di atas muka bumi ini yang akan menjadi tamat kalau kita sudah dipanggil yang kuasa.
 Oleh Boy Syahputra

Bela Diri Nusantara dengan Kemasan Berbeda

Oleh : Randy Wirayudha – Okezone
Dewasa ini, banyak aliran-aliran beladiri dari luar (negeri), menginvasi Indonesia. Beladiri macam Karate, Judo, Taekwondo, Capoeira, Jiu-Jitsu, Aikido, Kempo, Muay-thai dan Vovinam, ternyata banyak menarik minat kaum muda Indonesia di era modern ini.
Sementara pencak silat sebagai warisan budaya beladiri bumi pertiwi, sedikit demi sedikit terkikis dari perhatian golongan muda. Pasalnya, dogma yang menyebut pencak silat sebagai beladiri yang ‘kampungan’, masih cukup melekat.
Silat juga kerap dianggap memiliki akar yang identik dengan suatu agama. Pandangan ini tidak bisa dipungkiri karena sebagian perguruan menggunakan atribut agama, seperti penggunaan mantra dan ritual-ritual yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan agama tertentu. Adanya penggunaan mantra-mantra itu juga membuat orang melihat Pencak Silat sebagai suatu aktivitas klenik. Sebab, itu tak heran bila segmentasi pencak silat kurang meluas.
Namun citra negatif itu perlahan terkikis dengan hadirnya seumlah perguruan silat yang lebih inklusif, dan modern, seperti Merpati Putih (MP). Perguruan ini, mengembangkan banyak hal untuk menghilangkan dogma negatif pencak silat. MP, mengemas metode dan materi latihan, yang sebenarnya bisa dikatakan, modern jika dibandingkan kebanyakan perguruan yang ada.
Modern karena semua keilmuan yang ada, didasarkan metode latihan yang bisa dikaji secara logis dan ilmiah, tanpa embel-embel ritual keagamaan atau yang berbau klenik. Selain itu, MP juga mengentaskan pembatasan anggota yang sebelumnya ‘terbatas’.
“Di tahun 60an sejak MP berdiri, kita terbilang lebih terbuka, karena kita menerima juga anggota-anggota ‘keturunan’, misalnya anggota yang punya darah Tionghoa, dan ‘bule’ juga. Walau begitu, kita enggak lari dari dasar keilmuan dan budaya sendiri, sebutlah sudah lebih multikultural. Dari suku bangsa maupun agama manapun, bisa tetap gabung, apalagi karena kita enggak pakai yang namanya ritual-ritual keagamaan atau yang bersifat klenik,” ungkap Nehemia Budi Setyawan, pewaris muda perguruan yang juga keponakan sang guru besar MP (Poerwoto Hadipoernomo).
Dengan memaksimalkan olah raga, olah napas dan olah rasa tanpa ritual-ritual yang ganjil, anggota-anggota MP bisa melakukan banyak hal unik dan menarik, serta bermanfaat bagi (tak hanya ke-atletan), tapi berbagai aspek kehidupan, seperti pematahan benda-benda keras, metode getaran yang kemudian mengarah ke metode gerakan tutup mata dan pendeteksian penyakit serta penyembuhan. Dan semua itu didapat hanya karena olah napas dari udara yang terhirup dari alam semesta.
“Power yang didapat dari latihan (MP) itu, asalnya sudah pasti dari oksigen. Dari oksigen yang kita hirup, diolah dalam sel darah menjadi energi dengan cara, mengejangkan diri (mengeraskan anggota tubuh), sehingga bekerja maksimal dan memunculkan ledakan energi tersembunyi dari dalam tubuh manusia yang namanya ATP (Adenosine Triphosphate),” jelas pria yang akrab di sapa Mas Hemi tersebut.
“Nah, dari situ, power dan energi ATP yang didapat, bisa merujuk kepada keilmuan getaran yang bisa bercabang pada beberapa hal yang bermanfaat, setelah merangkum latihan olah napas yang kita sebut, pembinaan dan pengolahan,” sambungnya.
Tak hanya sekedar teori atau pemaparan, bukti pengaplikasiannya, bahkan sudah dimulai pada tahun 1988 dan mulai ramai menjamur, di era 90an. Contohnya, di daerah Batu, Malang, terdapat sebuah kelompok latihan khusus tuna netra. Tujuannya bukan menyembuhkan kebutaan, tapi membantu ‘melek mata’ para penyandang tuna netra, dengan tutup mata yang berasal dari metode getaran.
Contoh kasus terdekat, mungkin Hemi sendiri, yang sejatinya mengalami buta warna sejak lahir. Dengan memanfaatkan getaran yang dimiliki, Mas Hemi punya kemampuan mengenal warna dan tentunya bangga, meski awalnya pernah merasa malu terhadap ‘kekurangan’ yang dia miliki. Hingga akhirnya, dia bisa menempuh pendidikan hingga kini berprofesi sebagai arsitek di sebuah perusahaan swasta.
“Pengaplikasian getaran bahkan saya gunakan sendiri untuk kehidupan pribadi. Saya ini aslinya ‘kan’ buta warna. Tapi dengan memanfaatkan getaran yang saya pelajari, saya bisa mengenal warna dan saya bangga bisa memaksimalkan apa yang saya punya,” aku pria kelahiran Yogyakarta, 37 tahun silam itu.
Seiring dengan berkembang dan mencapai masa jayanya, MP tetap tak tutup mata untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. MP punya penyesuaian khusus dan adaptasi dengan hal-hal kaku yang biasanya tak bisa ditolelir sebagian besar perguruan lain.
“Tentunya di era yang sudah semakin modern ini, MP harus bisa menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman. Ya intinya mengemas diri supaya lebih menarik. Misalnya, kita pernah coba bikin atraksi di tengah mal, dengan disertai alunan musik yang juga modern, bukan hentakan gendang tradisional. Kita juga menawarkan latihan yang lebih praktis, dengan tidak mempelajari semua metode dengan mendetil,” tambah penikmat hobi Fotografi tersebut.
Soal organisasi, MP bisa dibilang, salah satu perguruan yang punya manajemen paling rapi, terutama sejak tergabung ke IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Dengan keteraturan manajemen, MP bisa Go International dan bahkan sudah punya lebih dari 90 cabang di seluruh dunia.
“Hingga sekarang, kita punya 96 cabang, termasuk yang di luar Indonesia. Mereka tersebar di semua benua (kecuali Afrika). Di sana (Afrika), kita belum menjamah. Baru di Asia, Eropa, Amerika dan Oseania, tepatnya di New Caledonia,” terangnya lagi.
Merpati Putih, sedianya berasal dari sebuah akronim bahasa Jawa kromo, yakni ‘Mersudi Patitising Tidak Pusakane Titising Hening’, yang kira-kira artinya, mencari kebenaran dalam keheningan.Jika memang menggiati MP hingga puncak olah rasa dan karsa, tiap-tiap anggota, punya tafsiran masing-masing mengenai, apa arti hening bagi diri masing-masing. Begini pemaparan pribadi Hemi, perihal makna kata ‘hening’ yang dirangkumnya dari penjabaran dan wejangan dua guru besar – Alm. Budi Santoso dan Poerwoto.“Kesatuan pilu dan rasa, terbebas dari keterikatan menuju yang satu. Sama dengan tauhid totalitas tanpa embel-embel kesatuan pikir dan rasa, menimbulkan loncatan energi pada skala cipta (quantum),” paparnya.

Sang Pendekar – Poerwoto Hadi Poernomo 1 – 9

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 1

Salah besar kalau membayangkan Mas Pung, Ketua Umum Merpati Putih(MP), bertubuh tinggi besar seperti pendekar-pendekar silat dalam babad atau komik. Tingginya hanya 159 cm, bobot tubuhnya 49kg. Dipundak ayak 3 anak ini terbeban nama besar perguruan, di samping nama besarnya sendiri sebagai pendekar silat.

“Memancing kemarahan pendekar itu gampang. Singgung saja harga dirinya. Ia akan marah sekali,”katanya suatu ketika.

Perjalanan MP tak lepas dari perjalan hidup Mas Pung, 47, yang bernama asli Poerwoto Hadi Poernomo. Dekade 1960-an, di mata Raden Saring Hadi Poernomo, ayah Mas Pung, merupakan masa-masa gelap. Saat itu eksponen pemuda terpecah-pecah dalam kotak organisasi-organisasi. Tak jarang terjadi clash di antara mereka. Sebagai pewaris ilmu silat dari Nyi Ageng Djojoredjoso, Saring melihat bahaya dari masuknya seni beladiri dari luar. Di matanya, ilmu beladiri asing itu membawa filosofi – yang disadari atau tidak –  ilmu beladiri dapat mempengaruhi watak, kepribadian ataupun perilaku mereka yang mempelajarinya. Sementara beladiri yang ada saat itu terlalu “sombong” untuk berkembang di luar lingkungan sempit.

Kemudian Saring, ayah 12 putra, memberi amanat pada 2 puteranya, mas Pung dan Budi Santosa Hadi Poernomo, untuk mengembangkan ilmu beladiri milik mereka. Maka pada 2 April 1963, di Yogyakarta, mereka dirikan Perguruan Pencak Silat Tangan Kosong Merpati Putih. Nama Merpati Putih sendiri merupakan kependekan dari MErsudi PAtitising TIndak PUsakane TItising Hening, yang berarti “Mencari hidup yang benar dan tepat, berdasarkan perbuatan yang sejalan dengan kepercayaan dan keimanan.” Mas Pung menjadi ketua umum perguruan itu.

Pada perkembangannya, MP boleh dibilang merupakan perguruan silat terbesar, bisa dilihat dari jumlah anggota dan kerapihan organisasinya. Kini anggotanya mencapai 200.000 orang dengan beberapa nama terkenal seperti Solihin GP. Ketika menerima amanat ayahnya, Mas Pung tak menduga perguruannya akan bertumbuh sebesar sekarang.

Kepada JJ, sang pendekar bercerita panjang lebar soal ilmu kanuragan, organisasi maupun visi politik MP.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 2

Apa yang menjadi perhatian utama MP sekarang?

Ilmu beladiri sekarang harus mencakup 5 aspek:beladiri, seni, olahraga, spiritual dan religius. Kelimanya harus dilakukan secara simultan. Kalau tidak, akan berpengaruh pada kejiwaan, karena belajar beladiri itu berkaitan dengan pembentukan karakter.

Nah, inilah dasar pemikiran MP. Kalau kita ingin mengembangkan perguruan beladiri, harus jelas dibawa kemana perguruan ini. Kalau tidak, nanti anggota bias ikut jalan sesat. Jadi kita memilih membentuk beladiri secara utuh. Jadi lebih mengarah pada olah diri. Ini jalau lebih komplet karena membentuk rasa, logika, mental, intelektual dan fisik.

Aspek spiritual religius apakah berkaitan dengan agama?

Bukan. Mereka pada tingkat-tingkat tertentu akan lebih banyak mencari dirinya. Karena belajar di MP itu lebih banyak melawan diri sendiri. Karena untuk mengatakan “ya” atau “tidak”, itu perlu pertimbangan logika sendiri.

Kalau memang kita melawan diri sendiri, apakah pemecahannya juga ada pada diri sendiri, dan tidak pada factor?

Setiap anggota MP itu kita andaikan memiliki agama sendiri, apakah itu Islam ataukah agama lain. Dengan MP mereka kita harap dapat mensortir dan kemudian mengaplikasikan agama masing-masing. Jadi mereka akan membawakan diri mereka ke sana.

Kita tidak mendasarkan diri pada agama tertentu, tapi lebih menekankan pada dialog diri, sehingga pada saatnya si murid dapat mengetahui dan posisi dirinya dalam alam semesta. Ia jadi tahu posisinya secara vertikal dan horizontal.

Kita ini seperti ditaruh dititik tengah pertemuan vertikial dan horizontal. Sehingga  kadangkala antara ya dan tidak, antara benar dan salah, itu selalu berimbang. Kalau disadari, kita itu hidup antara naluriah dan rohaniah. Kadangkala terjadi benturan diantara keduanya, semenrara kita harus menjalani keduanya.

Bagaimana benturan antara keduanya terjadi?

Ketika kita mencari kesimpulan untuk menetukan suatu sikap. Seperti ketika anda ingin menolong teman yang cedera di satu sisi. Kita harus menimbang-nimbang untuk menentukan sikap. Nah, sering tejadi dialog atau benturan diantara keduanya. Nah beladiri yang ada pada kita itu mengarah pada kemampuan orang mengambil keputusan. Sehingga kita berharap murid-murid MP mempu meletakkan diri pada posisi yang tepat.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 3

Kalau sejarah keilmuannya sendiri? Apakah sudah sejak zaman Majapahit atau Mataram?

Kurang jelas. Tapi yang pasti kita ambil dari Amangkurat. Waktu itu di Mataram ada perebutan tahta kerajaan antara pihak-pihak keluarga. Amangkurat II yang mengundurkan diri karena tak tahan melawan Belanda. Dialah yang menjadi cikal bakal. Dia membawa cucunya yang setelah dewasa bergelar Nyi Ageng Djojoredjoso.

Nah, cucunya inilah yang diberi ilmu dari Amangkurat II. Dan mungkin juga Nyi Ageng Djojoredjoso ini dapat ilmu dari para pembantu Amangkurat II. Ke atas lagi kami ngga tahu. Tapi konon menurut cerita-cerita, saya sendiri juga nggak dapat babadnya. Saya sudah telusuri ke Pak SH Mintardja yang mengarang Naga Sasra Sabuk Inten, sebab ada bagian ceritanya yang mirip dengan ilmu kita. Ketika Arya Salaka, tokohnya, di uji di gua, dia mampu memecahkan batu. Nah, caranya memecahkan batu ini mirip dengan ilmu kita.

Saya Tanya Pak Mintardja apakah kemiripan ini hanya kebetulan? Menurut Pak Mintardja ia dapatnya dari babad Mataram atau Demak yang jadi pegangan ia menulis buku itu. Sedangkan tokoh Mahesa Jenar keturunan siapa? kan dari Majapahit juga. Mungkin ilmu itu dari zaman itu.

Tapi kalau dilihat dari kuda-kudanya apakah ada kemiripan dengan Ilmu Sasra Birawa-nya Mahesa Jenar?

Ya memang ada kemiripan. Tapi yang terpenting adanya konsentrasi full itu yang menimbulkan tenaga besar. Itu tersurat dalam buku itu. Nah, Pak Mintardja menuliskan itu. Saya pikir apakah ia juga bisa melakukan itu? Dia bilang tidak. Waktu itu saya berpikir apakah ilmu MP sudah setua itu. Jadi apakah ia mampu berbuat seperti Ki Ageng Sela yang mampu menangkap petir? Kita kan masih terus mencari yang lebih.

Dari Nyi Ageng Djojoredjoso apakah semua ilmunya dipakai MP?

Tidak. Dari Nyi Ageng Djojoredjoso ilmu itu dipecah menjadi 3 bagian yang diberikan kepada putra-putranya. Seperti kita, itu berasal dari Gagak Handoko yang menekankan kepada kawiraan – bela diri itulah. Bagian sastra-nya atau falsafah atau kejiwaan itu diwariskan kepada Gagak Seto. Sedangkan pada Gagak Samudro itu lebih banyak diberikan ilmu pengobatan.

Suatu saat Nyi Ageng Djojoredjoso ini berniat masuk ke kraton untuk membalas dendam. Tapi karena tak mampu menembus blokade kumpeni, ia memutar haluan ke selatan dan menetap di Bagelan.

Nah, ilmu kita lebih mewarisi Gagak Handoko yang menekankan kewiraan. Setelah itu ilmu ini turun temurun sampai pada saya dan Budi.

Saya ini sampai sekarang belum bisa mewariskan apa-apa. Sebab saya terpaku untuk mengembangkan ini demi kepentingan nasional. Lingkup saya lebih terbuka. Tapi karena banyaknya pilihan saya justru jadi sulit memilih.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 4

Apakah Anda mewariskan  juga untuk anak-anak Anda?

Saya, seperti almarhum ayah saya juga, tidak mau memaksakan. Kalau si anak ada ke arah sana, ada minat, baru diberi.

Anak-anak saya sendiri lebih cenderung kepada studi. Mungkin mereka pikir beladiri ini tidak bisa dipakai cari pekerjaan.

Mungkin.

Artinya pengganti Mas Pung tidak hanya dari lingkungan keluarga?

Saya sendiri belum bisa memutuskan. Sekarang karena sudah punya perguruan saya serahkan itu kepada organisasi. Biar mereka yang memilih. Kalau saya memilih nanti di sangka pilih kasih. Kita kan punya jenjang-jenjang tingkatan. Ya mereka yang mampu mencapai tingkatan tinggi tentunya lebih besar kansnya.

Kembali ke asal usul MP. Ilmu pengobatan dan sastra yang diberikan pada Gagak Samudro dan Gagak Seto apakah ada pewarisnya?

Saya engga tahu apakah mereka hanya menurunkan pada keluarganya. Dan dimana keturunanya? Apakah mereka itu, karena alasan keamanan, menghilangkan jejak? Saat itu kan zaman penjajahan dan mereka hanya menguasai ilmu pengobatan dan sastra. Karena tidak bisa mengumpulkan massa mereka kemudian sembunyi terus. Ini yang kami terus lacak. Kami ingin melacak dan menyatukan aspek-aspek itu. Seperti kam bilang kan beladiri itu kan ada 5 aspek. Nah, kalau medis dan filosofi ini digali kan semakin lengkap.

Apakah keturunan Gagak Handoko itu ikut dalam pergerakan?

Rata-rata ada. Seperti Bongso Djojo itu keras sekali melawan Belanda. Gagak Handoko itu sendiri ikut dalam pertempuran Untung Surapati yang lari dari Batavia. Ini ditulis dalam buku Bende Mataram. Cerita ini juga diambil dari babad Mataram. Gagak Handoko dalam Bende Mataram inilah yang menurunkan MP.

Kenapa MP tidak disebarkan secara umum pada zaman penjajahan?

Saya kurang tahu. Tapi sebelum tahun 1940-an, ayah saya banyak kenal pendekar aliran lain. Ketika para pemuda menyerbu Kota Baru, Yogya, ayah ikut berperan. Waktu itu ayah bekerja di Jawatan Kereta Api, dibelakang rumahnya terdapat tangsi tentara Jepang. Ketika pemuda masuk ke Kota Baru, ayah bersama dua temannya mencegat satu kompi bantuan Jepang yang dikerahkan dari Pengok. Pertempuran waktu itu memang berlangsung di Kota Baru.

Anda sendiri usia berapa mulai dilatih ilmu beladiri?

Ketika saya masih usia 13 tahun atau 14. sekitar tahun 1958. saya sendiri mendapat ajaran dari Pak Sarengat, Pakde saya. Dia ini mempunyai ilmu seperti ayah saya, tapi anak-anaknya tidak ada yang berbakat. Lantas ayah menyuruh saya belajar pada Pakde.

Pakde saya ini mempunyai keistimewaan karena memilik ilmu mirip dari Jawa Barat. Ia punya ilmu Macan Putih atau yang lain. Sekarang ia masih hidup, usianya sekitar 94 tahun. Tahun 1963, pada usia 19, saya mendapat amanat mendirikan perguruan. Dulu sama sekali nggak menyadari ini amanat besar. Nah kok sekarang jadi besar begini. Yang saya kumpulkan teman-teman, kalau sekarang disebut Gang.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 5

Semuanya dilatih ayah anda?

Tidak saya sendiri yang mengajar. Ayah kadang-kadang memberi nasehat. Saya sebenarnya mengharap ayah turun langsung. Tapi dia selalu melalui saya. Walau pun dekat masih menjaga jarak. Sampai saya berpikir, apakah ayah memang menempatkan saya pada posisi itu? Kadangkala ia hanya memberi petunjuk lisan, prakteknya tetap saya yang lakukan. Seperti prinsip-prinsip perkelahian selalu saya dan Budi yang harus maju.

Apa sih kelemahan utama perguruan-perguruan silat yang ada?

Ada beberapa perguruan yang selalu menekankan diri pada prestasi. Secara organisasi mereka eksis karena itu syarat menjadi anggota IPSI. Tapi banyak perguruan silat, yang karena ingin memasukkan atlet lebih banyak dalam pertandingan, kemudian memecah mantelnya. Mereka kemudian menjadi beberapa perguruan. Seperti POPSI yang didirikan pendekar tua yang biasa saya panggil Mbah Djojo. POPSI ini kemudian membuat perguruan-perguruan kecil supaya semakin banyak atletnya yang dapat ikut pertandingan. Belia nggak memikirkan konsekwensi perpecahan. POPSI itu dengan Bayu Manunggal kebih menekankan segi prestasi di olahraganya.

Maksudnya organisasinya tidak berkembang?

Sebagai anggota IPSI, kan kepenuhan organisasi ada, hanya saja penekanan pada prestasi olah raga tadi. Sedangkan kita berpendapat, kalau kita tidak melihat pencak silat selain bela diri, maka silat itu akan punah dengan sendirinya.

Generasi belakangan ini maunya mempelajari sesuatu yang ada manfaat buat dirinya. Kalau silat sebagai bela diri kan sulit. Kita sudah punya dasar hukum apalagi alat-alat bela diri lebih canggih seperti senjata api. Kalau silat sebagai bela diri tidak mungkin akan berkembang, paling hanya dapat bertahan. Sedangkan silat sebagai prestasi, paling banter hanya prestasi nasional. Prestasi internsional belum diakui, belum ada di Olympiade.

Karena itu MP mencoba melihat manfaat yang lain. Ternyata ada ilmu getaran, yang dapat kita aplikasikan untuk tuna netra. Berarti  kan melipatgandakan kegunaannya? Dengan mata yang dalam, tuna netra mampu meningkatkan mobilitasnya. Tidak menutup kemungkinan mereka mampu membaca majalah dengan huruf latin. Dengan tenaga getara ini bukan tidak mungkin seorang tuna netra nanti mampu mengoperasikan komputer.

Apa ilmu getaran ini bisa dipakai untuk menyerang?

Ini tergantung, Mas. Jangan terlalu sadis. Saya nanti dianggap terlalu sombong. Ilmu getaran ini nanti berkembang ke arah sesuatu yang masih kita sembunyikan, karena sangat berbahaya. Bahaya sekali, Mas……..

Kita berani mengeluarkannya karena sudah ada back-up pemikiran ilmiah. Kalau tidak pakai itu, nanti kita disangka ilmu magic. Padahal nggak, semua ada pemikiran ilmiah itu, kita bisa tahu bagaimana kemampuan tubuh kita. Bisa jadi kita sampai kesimpulan, bahwa kita ini robot paling canggih. Nah, kalau begitu kita akan bertanya siapa yang memprogram, siapa yang membuat… kan akhirnya ‘ke sana’ juga. Pencipta juga. Sekarang dengan ilmu getaran ini, anggota-anggota saya yang sudah jadi, mampu mendeteksi bahan peledak yang disembunyikan.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 6

Jadi apakah mematikan lampu dengan getaran itu juga bisa?

Suatu saat atau sekarang mungkin juga bisa mas. Sekarang ini kita juga kembangkan pukulan tanpa menyentuh. Jadi walaupun tangan kita tidak menyentuh benda yang kita arah dapat hancur. Sekarang sedang percobaan. Mungkin tahun depan kita keluarkan.

Apakah semua ini anda sudah milik sejak mulai latihan?

Ya tetapi sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan kepada kepada anggota asalnya kekuatan itu, saya tidak berani menjelaskan.

Artinya ilmu anda sudah mencapai tingkatan itu?

Bagaimana saya berani mengajar setir kalau saya tidak bisa mengajar setir, mas? Bahkan saya sering jadi kelinci percobaan. Tapi kadangkali saya bilang kepada mereka, kalau kalian mempelajari sesuatu, kalian harus yakin bisa melakukan, seperti ilmu getaran itu, itu kan menyatukan antara bahasa rasa dan logika. Itu sulit sekali. Dan mulanya memang ada keraguan itu. Toh nyatanya bisa. Sekarang banyak yang menguasai itu. Ilmu memecah benda tanpa menyentuh pun sudah banyak yang menguasai. Kalau dengan yoga orang bisa mengangkat badannya setengah meter dalam beberapa jam.  Ini nanti yang akan memecahkan rahasia ilmu ginkang. Rahasianya, kalau kita bisa mengalahkan magnet bumi dan kita tambah sedikit power tentu kita dapat melenting.

Kembali ke masa 50-an, metode pelatihan yang dipakai ayah anda?

Ilmu itu kita pilah-pilahkan. Jurus-jurus yang ada kita urai, antara gerakan silat yang menyerang atau bertahan. Kita beri nama sesuai sifatnya misalnya pukulan lurus, pukulan silang atau keprukan. Satu jurus itu kita anggap satu kalimat yang terdiri dari beberapa abjad. Semuanya kita pakai bahasa indonesia.

Sebelumnya tidak ada namanya?

Tidak ada. Saya mulai memberi nama 1968, ketika masih muda dan ayah masih hidup. Dengan dipecah-pecah jadi abjad ini anggote lebih mudah merangkai jurus sesuai yang diinginkan. Juga untuk lebih mengingatnya jadi lebih mudah. Kalau tidak ya sulit. Misalnya menjelaskan tendangan melingkar atas ke belakang. Kalau disebut bahasa indonesia kan sulit sekali. Maka dipakai isitilah circle atas. Atau bahasa jawa baku yang tidak di bahasa indonesiakan. Misalnya srimpet. Kalau bahasa indonesianya kan kaki kiri di depan kemudian kaki kiri ditarik kebelakang memutar melalui kaki kanan kembali kedapan. Ini namanya srimpet. Gerakannya  mau jatuh, padahal justru menghindari serangan sekaligus mendekati lawan. Jadi lawan posisi mati karena lawan tidak punya jarak menyerang kita.

Nah, kalau nama mp itu sendiri?

Itu ayah yang memberikan. Mp itu sendiri merupakan singkatan dari kepanjangan yang merupakan filosofi dasar perguruan kita. Mer itu dari mersudi. Pa dari patitising tindak pusakane titising hening. Kalau dijelaskan : mencari sampai mendapatkan tindakan yang benar dengan dasar ketenangan, kejiwaaan atau dasar keimanan. Ini memang berat. Sebab kita di ajar benar di atas yang benar salah di atas yang salah. Ini yang berat. Apalagi kalau dilihat situasi dan kondisi secara keseluruhannya, sangat sulit.

Apakah juga berdasar pada nilai-nilai kejawen?

Saya tidak melihat itu. Sebab sendiri punya keyakinan juga. Ketepatan saya ini kristen dan dibaptis sejak kecil. Ayah saya juga kristen. Selalu dalam suatu titik tertentu kita mengadakan dialog diri tadi, menempatkan diri kita dalam posisi sebenarnya. Sehingga saat itu mencapai klimaks, sehingga dalam doa itu kita merasa ada komunikasi dalam diri. Makanya ketika berdoa ada yang sampai menangis segala.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 7

Jadi doa itu bukan proses hubungan manusia dengan sesuatu yang sifatnya supernatural?

Ndak. Berdoa tergantung apa kebutuhan kita. Kalau kita terbentur masalah maka biasanya timbul kepasrahan. Makanya tidak ada doa minta kesaktian atau kemamuan memecah benda keras.

Kapan ayah anda meninggal?

Maret 1969. Tapi kayaknya dia sudah tahu waktu kematiannya saat itu saya sedang di Medan. Perasaan saya enggak enak ingin pulang. Saya pulang seminggu sebelum kematiannya. Ternyata entah apa, menurut ibu saya, sebelum meninggal ayah ingin bertemu saya. Keinginan ayah saya ini menimbulkan rasa kangen, tapi terpaksa pulang pada saat saya yang sedang di Medan. Ketika memijat ayah saya, beliau berkata,”aku arep lungan adoh. Apik-apik kowe kudu iso ngrumat adi-adimu. Sing guyub karo konco-konco. Mung emane kok katone ora menangi aku. Sesuk esuk aku arep istirahat.”

Waktu itu budi masih melatih di Brimob Porong. Saat itu ayah sudah bekerja di rumah sakit gajah mada. Ia ingin merasakan istirahat di zaal yang merupakan ide beliau. Pada saat itu ia tidak terlihat sakit. Diperiksa dokter juga tak sakit apa-apa. Ternyata ia meninggal di hadapan keluarga di zaal itu. Ia meninggal dengan senyuman yang sampai sekarang tidak saya bisa saya lupakan. Saya melihat ayah saya meninggal dengan kemuliaan dengan kepasrahan, tanpa semua kita tahu.

Apa ada pesan khusus pada anda?

Lewat keluarga saya, ayah melarang saya berpisah dengan budi, adik saya. Cuma watak kami berbeda jauh, saya pendiam, Budi wah…. Jadi seperti minyak dan air, sama-sama cari tapi berbeda. Nyatanya saMPai sekarang kami masih bersatu terus. Soal organisasi kami saling mengisi lewat diskusi keras.

Waktu tahun 1969 anda sudah melatih militer?

Sudah. Sejak 1966 kita sudah melatih di batalyon 403 di yogya, di kasi 1 korem juga.

Kapan MP pindah pusat ke Jakarta?

Oh itu ada riwayatnya. Pada awal 1976, saya didatangi tamu dari jakarta dari pasukan pengawal presiden. Datang lengkap dengan seragam dan mobil militer. Orang kaMPung kaget. Ternyata dia diutus pak Tjokropranolo yang saat itu menjadi ketua umum ipsi. Ia mengetahui kita pada 1973 sempat mengadakan penelitian ilmiah di akabri udara masalah power yang kita miliki.

Pada 1975, kita dipanggil ke jakarta. Saat itu beliau menjabat sebagai sekretaris militer presiden. Saya diperintahkan melatih pengawal presiden, mulai juli 1076. Akhir 1976 saya melatih rpkad. Pada hut abri 1978, rpkad yang sudah menjadi Kopassandha mendapat tugas peragaan kemampuan memecah benda keras seperti yang kita latih. Dari situlah nama MP berkembang di Jakarta. Ternyata kemampuan organisasi sekarang baru mulai mengejar. Jadi bukan ada orgnanisasi dulu. Untuk menghindarkan birokrasi yang berbelit, kita tidak pakai pengurus daerah(pengda). Kita dari cabang langsung ke pusat. Kalau jumlah anggotanya sudah banyak kita baru akan membentuk pengda. Data 1989, anggota MP sudah mencapai 180.000 lebih sekarang pasti lebih dari 200.000 anggota.

TaMPaknya MP dekat dengan militer?

Kita berprinsip menerima siapa pun yang mau berlatih. Ketepatan militer banyak yang berlatih di MP, seperti Kopassus tadi. Karena itu kita dekat dengan para Komandan Militer.

Tapi apakah tidak ada benturan, karena militer kan punya disiplin tersendiri?

Kalau dengan militer biasanya kita ada konsensus dengan atasannya. Kita tidak menekankan dengan disiplin MP. Tapi ada hal-hal yang perlu dilakukan. Misalnya murid militer tidak boleh jadi instruktur untuk umum. Karena program militer berbeda dengan program untuk umum.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 8

Apakah yang mengembangkan pada 1978 itu tetap orang-orang lama pada tahun 1968?
Oh ndak, sejak 1968 kita sudah punya bekal beberapa cabang di Yogya dan Madiun. jadi kita sudah punya modal beberapa pelatih. jadi kita mengirim pelatih-pelatih ke daerah-daerah.Suatu kebetulan kita berkembang dikalangan mahasiswa di UGM, ITS, semarang, bandung. Justru dari sinilah berkembangnya. Setelah selesai studi mereka bekerja di lain daerah dan membuka perguruan. Baru setelah itu mereka melapor kepada kita.

Jadi tidak ada izin khusus membuka cabang?
Ada. Jumlah cabang ini mempunyai anggota minimal 160 orang. Karena sebab cabang harus mampu menghidupi dirinya sendiri. Nah, ia hidup dari uang iuran anggota, sebab paling banter hanya 60-70 persen anggota yang membayar iuran.

Kenapa anggota berkembangnya lebih banyak dikalangan kelas menengah?
Ya memang. Jadi begini, kelas menengah ke atas ini lebih dominan karena ternyata latihan MP ini bayarannya mahal. dari peralatannya saja seperti uang seragam dan materi ujian seperti benda-benda keras itu kan mahal. seperti satu kikir itu saja harganya sudah Rp.6000,- padahal sekali uji coba ia perlu 8-9 kikir. belum beton atau balok es. Jadi satu orang sekali uji coba itu bisa menghabiskan Rp70.000 – Rp.80.000,- hanya untuk dihancurkan.

Tidak ada subsidi dari perguruan?
Subdisi dari mana, karena perguruan itu hidup dari uang iuran anggota? Sekarang kita sedang mendirikan yayasan agar bisa mem-back-up organisasi. Uang iuran anggota di Jakarta hanyaRp.2500,- untuk uang sewa gedung  sudah berapa belum ongkos transport pelatih.

Tapi bisa jadi kelompok ekslusif?
Kita tidak bisa mengkingkari kelompok menengah ini menjadi penyangga. Sementara kita ingin lebih ke kelompok bawah lagi. Ya harus dengan sistem subsidi. Kita harus mensubsidi orang yang mempunyai kemampuan dan loyalitas tinggi tapi kemampuan ekonominya pas-pasan. Uangnya tentu dari yayasan. Tapi sifat donatur ini sektoral. Jadi yang punya donatur itu cabang, bukan pusat. Cabang punya hak menerima dan mengelola donasi. Organisasi pusat punya badan pengawas keuangan.
Nanti kalau ada cabang yang seharusnya surplus jadi minus, badan ini akan mengontrol. Ini berjalan baik, buktinya setiap acara pusat, cabang pasti mengirim wakilnya. Memang soal biaya tinggi ini dapat menjadi kendala perkembangan MP ke semua golongan. Sekarang kita sedang kontak Depdikbud agar MP dapat kurikulum silat. Tentu saja pengajarannya disesuaikan dengan perkembangan usia. kalau siswa-siswa ini belajar MP kan jadi bendera MP, ini mungkin dapat mengurangi keinginan berkelahi di luar.

Bagaimana kalau ada  murid MP yang berlatih bela diri lain?
Ia kita haruskan memilih MP atau yang lain.

Jadi tak boleh merangkap?
Kita tak ingin ada clash dengan perguruan lain. Biasanya clash itu terjadi karena persoalan murid ini.

Sejak 1960-an ada sempalan MP?
Kalau dibilang perpecahan itu nggak ada. tapi bahwa ada murid mp yang membuat perguruan musiman itu memang ada. Ya silahkan saja. bahkan ada yang mencampu-campur ilmu MP dengan aliran lain. silahkan pakai nama lain dan jangan bawa-bawa nama MP.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 9

Aliran apa itu?

Saya tidak usah menyebutkan. mereka biasanya punya versi sendiri. Ada juga guru MP yang lari dengan anak buahnya. Tapi kemudian bubar sendiri. Saya memang dekat dengan banyak guru-guru tua seangkatan ayah saya. Apalagi waktu muda saya memang sering disuruh ayah belajar ilmu pada pendekar-pendekar tua itu. Kedekatan ini seringkali menimbulkan kerancuan. Seperti ada aliran yang memakai pernafasan MP, dikatakan mempunyai sumber yang sama dengan MP. Jadi saya dekat dengan perguruan-perguruan yang ada. Bahkan saya juga dekat dengan pendekar-pendekar yang tak punya perguruan seperti Kyai Suhada, gurunya Komar yang konon kebal peluru. Beliau memanggil saya Benu.
Dan dengan RM Harimurti, tokoh silat … ?(beberapa tulisan disini hilang karena majalahnya robek)
Ya, tapi karena beliau kastanya lebih tinggi, ada hambatan komunikasi. Wah saya diajak bicara nandiko-nandiko. .. mungkin dulu saya ada darah, tapi kan sudah keluar istana sejak lama.
Sekarang ini apakah masih banyak pendekar-pendekar di luar IPSI?
…. masih banyak. Masih banyak pendekar-pendekar yang mempunyai sifat tertutup, tidak mengembangkan diluar lingkungannya. Akibatnya kepandaiannya terbawa mati. Kita berusaha … ini. Kita harus menghilangkan … perguruan sendiri sebagai yang memang … memang ego perguruan itu selalu … sendiri punya. tapi bagaimana… saya pernah diajak Solihin GP ke Banten, Jawa Barat, wah di sana masih banyak jawara-jawara silat.
Lantas mengapa beberapa aliran silat sulit berkembang?
Rata-rata kelemahan pokok adalah organisasinya amburadul. Mereka harus menggunakan prinsip organisasi modern. Jenjang antara guru dan murid jangan dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Kalau murid punya kemampuan organisasi lebih baik, ya harus di beri kesempatan mengembangkan organisasi itu.
Perguruan pencak silat itu punya sistem sendiri. Bukan organisasi sosial, organisasi usaha ataupun ormas. Apalagi jenjang di tingkat perguruan amat berpengaruh. Seperti militer. Makanya menjalankan organisasi itu kita juga seperti militer. Hanya di MP setiap orang harus memahami AD/ART sehingga tahu hak dan kewajibannya.
Apakah bentuk organisasi modern dapat menghilangkan wibawa si guru?
Saya sendiri tak punya kekhawatiran itu. Saya tidak tahu pendekar yang lain. Tapi dia harus tahu bahwa bagaimanapun ia punya kelebihan di satu sisi. Saya misalnya. Di ilmu saya boleh unggul, tapi saya tidak bisa menjalankan komputer.
Dulu MP kan pernah ditantang Thai Boxing?
Oh dulu. Bukan dipertandingkan. Ketika itu Thai Boxing kan eksebisi di sini. Dia mengeluarkan tantangan. Saya tersinggung. Tamu kok nantang tuan rumah. Hanya saya waktu itu yang bereaksi. Saya kejar sampai ke mana-mana.
Waktu itu Istora saya sudah tunggu-tunggu untuk naik ke atas ring. Hanya saja penjagaan Polisi Militer saat itu sangat ketat. Besoknya saya di tangkap Pak Eddy Nalapraya (Komandan Garnizun DKI). Ditangkap secara halus, tentunya. Saya diajak ngobrol ngalor-ngidul. Tak tahunya pas saya bertemu Pak Eddy, itu para atlet disuruh pulang ke negaranya. Jam 5 saya dilepaskan, saya kejar ke HI dan Horison. tapi dia sudah pulang.
Sempat ketemu?
Sempat. Tapi promotornya bilang, ini kan hanya promosi. Saya marah sekali saat itu. Dan sesudah suara saya keluar di koran, beberapa puluh anak dari daerah datang mendukung saya. Mereka datang langsung ke tempat saya di Walpres. Tapi mereka kemudian ditahan di sana. Saya tuntut kedutaan Thai minta maaf. sayangnya, tak disampaikan ke sana. Yang megang IPSI.
Terakhir, dekat pemilu ini bagaimana kebijakan politik MP?

Banyak memang yang meminta kita ikut. Tapi kami membebaskan para anggota dalam menjalankan aspirasi politiknya. Hanya yang kami tegaskan, anggota kami tak boleh berkampanye dengan memakai atribut perguruan seperti seperti pada pemilu lalu. Ini yang sangat kami larang.

sumber : http://mppalembang.blogspot.com/

Wawancara dengan Tjahjo Sasongko

Sumber : JAKARTA JAKARTA N0.285 14-20 Desember 1991.