Sang Pendekar – Poerwoto Hadi Poernomo 1 – 9

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 1

Salah besar kalau membayangkan Mas Pung, Ketua Umum Merpati Putih(MP), bertubuh tinggi besar seperti pendekar-pendekar silat dalam babad atau komik. Tingginya hanya 159 cm, bobot tubuhnya 49kg. Dipundak ayak 3 anak ini terbeban nama besar perguruan, di samping nama besarnya sendiri sebagai pendekar silat.

“Memancing kemarahan pendekar itu gampang. Singgung saja harga dirinya. Ia akan marah sekali,”katanya suatu ketika.

Perjalanan MP tak lepas dari perjalan hidup Mas Pung, 47, yang bernama asli Poerwoto Hadi Poernomo. Dekade 1960-an, di mata Raden Saring Hadi Poernomo, ayah Mas Pung, merupakan masa-masa gelap. Saat itu eksponen pemuda terpecah-pecah dalam kotak organisasi-organisasi. Tak jarang terjadi clash di antara mereka. Sebagai pewaris ilmu silat dari Nyi Ageng Djojoredjoso, Saring melihat bahaya dari masuknya seni beladiri dari luar. Di matanya, ilmu beladiri asing itu membawa filosofi – yang disadari atau tidak –  ilmu beladiri dapat mempengaruhi watak, kepribadian ataupun perilaku mereka yang mempelajarinya. Sementara beladiri yang ada saat itu terlalu “sombong” untuk berkembang di luar lingkungan sempit.

Kemudian Saring, ayah 12 putra, memberi amanat pada 2 puteranya, mas Pung dan Budi Santosa Hadi Poernomo, untuk mengembangkan ilmu beladiri milik mereka. Maka pada 2 April 1963, di Yogyakarta, mereka dirikan Perguruan Pencak Silat Tangan Kosong Merpati Putih. Nama Merpati Putih sendiri merupakan kependekan dari MErsudi PAtitising TIndak PUsakane TItising Hening, yang berarti “Mencari hidup yang benar dan tepat, berdasarkan perbuatan yang sejalan dengan kepercayaan dan keimanan.” Mas Pung menjadi ketua umum perguruan itu.

Pada perkembangannya, MP boleh dibilang merupakan perguruan silat terbesar, bisa dilihat dari jumlah anggota dan kerapihan organisasinya. Kini anggotanya mencapai 200.000 orang dengan beberapa nama terkenal seperti Solihin GP. Ketika menerima amanat ayahnya, Mas Pung tak menduga perguruannya akan bertumbuh sebesar sekarang.

Kepada JJ, sang pendekar bercerita panjang lebar soal ilmu kanuragan, organisasi maupun visi politik MP.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 2

Apa yang menjadi perhatian utama MP sekarang?

Ilmu beladiri sekarang harus mencakup 5 aspek:beladiri, seni, olahraga, spiritual dan religius. Kelimanya harus dilakukan secara simultan. Kalau tidak, akan berpengaruh pada kejiwaan, karena belajar beladiri itu berkaitan dengan pembentukan karakter.

Nah, inilah dasar pemikiran MP. Kalau kita ingin mengembangkan perguruan beladiri, harus jelas dibawa kemana perguruan ini. Kalau tidak, nanti anggota bias ikut jalan sesat. Jadi kita memilih membentuk beladiri secara utuh. Jadi lebih mengarah pada olah diri. Ini jalau lebih komplet karena membentuk rasa, logika, mental, intelektual dan fisik.

Aspek spiritual religius apakah berkaitan dengan agama?

Bukan. Mereka pada tingkat-tingkat tertentu akan lebih banyak mencari dirinya. Karena belajar di MP itu lebih banyak melawan diri sendiri. Karena untuk mengatakan “ya” atau “tidak”, itu perlu pertimbangan logika sendiri.

Kalau memang kita melawan diri sendiri, apakah pemecahannya juga ada pada diri sendiri, dan tidak pada factor?

Setiap anggota MP itu kita andaikan memiliki agama sendiri, apakah itu Islam ataukah agama lain. Dengan MP mereka kita harap dapat mensortir dan kemudian mengaplikasikan agama masing-masing. Jadi mereka akan membawakan diri mereka ke sana.

Kita tidak mendasarkan diri pada agama tertentu, tapi lebih menekankan pada dialog diri, sehingga pada saatnya si murid dapat mengetahui dan posisi dirinya dalam alam semesta. Ia jadi tahu posisinya secara vertikal dan horizontal.

Kita ini seperti ditaruh dititik tengah pertemuan vertikial dan horizontal. Sehingga  kadangkala antara ya dan tidak, antara benar dan salah, itu selalu berimbang. Kalau disadari, kita itu hidup antara naluriah dan rohaniah. Kadangkala terjadi benturan diantara keduanya, semenrara kita harus menjalani keduanya.

Bagaimana benturan antara keduanya terjadi?

Ketika kita mencari kesimpulan untuk menetukan suatu sikap. Seperti ketika anda ingin menolong teman yang cedera di satu sisi. Kita harus menimbang-nimbang untuk menentukan sikap. Nah, sering tejadi dialog atau benturan diantara keduanya. Nah beladiri yang ada pada kita itu mengarah pada kemampuan orang mengambil keputusan. Sehingga kita berharap murid-murid MP mempu meletakkan diri pada posisi yang tepat.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 3

Kalau sejarah keilmuannya sendiri? Apakah sudah sejak zaman Majapahit atau Mataram?

Kurang jelas. Tapi yang pasti kita ambil dari Amangkurat. Waktu itu di Mataram ada perebutan tahta kerajaan antara pihak-pihak keluarga. Amangkurat II yang mengundurkan diri karena tak tahan melawan Belanda. Dialah yang menjadi cikal bakal. Dia membawa cucunya yang setelah dewasa bergelar Nyi Ageng Djojoredjoso.

Nah, cucunya inilah yang diberi ilmu dari Amangkurat II. Dan mungkin juga Nyi Ageng Djojoredjoso ini dapat ilmu dari para pembantu Amangkurat II. Ke atas lagi kami ngga tahu. Tapi konon menurut cerita-cerita, saya sendiri juga nggak dapat babadnya. Saya sudah telusuri ke Pak SH Mintardja yang mengarang Naga Sasra Sabuk Inten, sebab ada bagian ceritanya yang mirip dengan ilmu kita. Ketika Arya Salaka, tokohnya, di uji di gua, dia mampu memecahkan batu. Nah, caranya memecahkan batu ini mirip dengan ilmu kita.

Saya Tanya Pak Mintardja apakah kemiripan ini hanya kebetulan? Menurut Pak Mintardja ia dapatnya dari babad Mataram atau Demak yang jadi pegangan ia menulis buku itu. Sedangkan tokoh Mahesa Jenar keturunan siapa? kan dari Majapahit juga. Mungkin ilmu itu dari zaman itu.

Tapi kalau dilihat dari kuda-kudanya apakah ada kemiripan dengan Ilmu Sasra Birawa-nya Mahesa Jenar?

Ya memang ada kemiripan. Tapi yang terpenting adanya konsentrasi full itu yang menimbulkan tenaga besar. Itu tersurat dalam buku itu. Nah, Pak Mintardja menuliskan itu. Saya pikir apakah ia juga bisa melakukan itu? Dia bilang tidak. Waktu itu saya berpikir apakah ilmu MP sudah setua itu. Jadi apakah ia mampu berbuat seperti Ki Ageng Sela yang mampu menangkap petir? Kita kan masih terus mencari yang lebih.

Dari Nyi Ageng Djojoredjoso apakah semua ilmunya dipakai MP?

Tidak. Dari Nyi Ageng Djojoredjoso ilmu itu dipecah menjadi 3 bagian yang diberikan kepada putra-putranya. Seperti kita, itu berasal dari Gagak Handoko yang menekankan kepada kawiraan – bela diri itulah. Bagian sastra-nya atau falsafah atau kejiwaan itu diwariskan kepada Gagak Seto. Sedangkan pada Gagak Samudro itu lebih banyak diberikan ilmu pengobatan.

Suatu saat Nyi Ageng Djojoredjoso ini berniat masuk ke kraton untuk membalas dendam. Tapi karena tak mampu menembus blokade kumpeni, ia memutar haluan ke selatan dan menetap di Bagelan.

Nah, ilmu kita lebih mewarisi Gagak Handoko yang menekankan kewiraan. Setelah itu ilmu ini turun temurun sampai pada saya dan Budi.

Saya ini sampai sekarang belum bisa mewariskan apa-apa. Sebab saya terpaku untuk mengembangkan ini demi kepentingan nasional. Lingkup saya lebih terbuka. Tapi karena banyaknya pilihan saya justru jadi sulit memilih.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 4

Apakah Anda mewariskan  juga untuk anak-anak Anda?

Saya, seperti almarhum ayah saya juga, tidak mau memaksakan. Kalau si anak ada ke arah sana, ada minat, baru diberi.

Anak-anak saya sendiri lebih cenderung kepada studi. Mungkin mereka pikir beladiri ini tidak bisa dipakai cari pekerjaan.

Mungkin.

Artinya pengganti Mas Pung tidak hanya dari lingkungan keluarga?

Saya sendiri belum bisa memutuskan. Sekarang karena sudah punya perguruan saya serahkan itu kepada organisasi. Biar mereka yang memilih. Kalau saya memilih nanti di sangka pilih kasih. Kita kan punya jenjang-jenjang tingkatan. Ya mereka yang mampu mencapai tingkatan tinggi tentunya lebih besar kansnya.

Kembali ke asal usul MP. Ilmu pengobatan dan sastra yang diberikan pada Gagak Samudro dan Gagak Seto apakah ada pewarisnya?

Saya engga tahu apakah mereka hanya menurunkan pada keluarganya. Dan dimana keturunanya? Apakah mereka itu, karena alasan keamanan, menghilangkan jejak? Saat itu kan zaman penjajahan dan mereka hanya menguasai ilmu pengobatan dan sastra. Karena tidak bisa mengumpulkan massa mereka kemudian sembunyi terus. Ini yang kami terus lacak. Kami ingin melacak dan menyatukan aspek-aspek itu. Seperti kam bilang kan beladiri itu kan ada 5 aspek. Nah, kalau medis dan filosofi ini digali kan semakin lengkap.

Apakah keturunan Gagak Handoko itu ikut dalam pergerakan?

Rata-rata ada. Seperti Bongso Djojo itu keras sekali melawan Belanda. Gagak Handoko itu sendiri ikut dalam pertempuran Untung Surapati yang lari dari Batavia. Ini ditulis dalam buku Bende Mataram. Cerita ini juga diambil dari babad Mataram. Gagak Handoko dalam Bende Mataram inilah yang menurunkan MP.

Kenapa MP tidak disebarkan secara umum pada zaman penjajahan?

Saya kurang tahu. Tapi sebelum tahun 1940-an, ayah saya banyak kenal pendekar aliran lain. Ketika para pemuda menyerbu Kota Baru, Yogya, ayah ikut berperan. Waktu itu ayah bekerja di Jawatan Kereta Api, dibelakang rumahnya terdapat tangsi tentara Jepang. Ketika pemuda masuk ke Kota Baru, ayah bersama dua temannya mencegat satu kompi bantuan Jepang yang dikerahkan dari Pengok. Pertempuran waktu itu memang berlangsung di Kota Baru.

Anda sendiri usia berapa mulai dilatih ilmu beladiri?

Ketika saya masih usia 13 tahun atau 14. sekitar tahun 1958. saya sendiri mendapat ajaran dari Pak Sarengat, Pakde saya. Dia ini mempunyai ilmu seperti ayah saya, tapi anak-anaknya tidak ada yang berbakat. Lantas ayah menyuruh saya belajar pada Pakde.

Pakde saya ini mempunyai keistimewaan karena memilik ilmu mirip dari Jawa Barat. Ia punya ilmu Macan Putih atau yang lain. Sekarang ia masih hidup, usianya sekitar 94 tahun. Tahun 1963, pada usia 19, saya mendapat amanat mendirikan perguruan. Dulu sama sekali nggak menyadari ini amanat besar. Nah kok sekarang jadi besar begini. Yang saya kumpulkan teman-teman, kalau sekarang disebut Gang.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 5

Semuanya dilatih ayah anda?

Tidak saya sendiri yang mengajar. Ayah kadang-kadang memberi nasehat. Saya sebenarnya mengharap ayah turun langsung. Tapi dia selalu melalui saya. Walau pun dekat masih menjaga jarak. Sampai saya berpikir, apakah ayah memang menempatkan saya pada posisi itu? Kadangkala ia hanya memberi petunjuk lisan, prakteknya tetap saya yang lakukan. Seperti prinsip-prinsip perkelahian selalu saya dan Budi yang harus maju.

Apa sih kelemahan utama perguruan-perguruan silat yang ada?

Ada beberapa perguruan yang selalu menekankan diri pada prestasi. Secara organisasi mereka eksis karena itu syarat menjadi anggota IPSI. Tapi banyak perguruan silat, yang karena ingin memasukkan atlet lebih banyak dalam pertandingan, kemudian memecah mantelnya. Mereka kemudian menjadi beberapa perguruan. Seperti POPSI yang didirikan pendekar tua yang biasa saya panggil Mbah Djojo. POPSI ini kemudian membuat perguruan-perguruan kecil supaya semakin banyak atletnya yang dapat ikut pertandingan. Belia nggak memikirkan konsekwensi perpecahan. POPSI itu dengan Bayu Manunggal kebih menekankan segi prestasi di olahraganya.

Maksudnya organisasinya tidak berkembang?

Sebagai anggota IPSI, kan kepenuhan organisasi ada, hanya saja penekanan pada prestasi olah raga tadi. Sedangkan kita berpendapat, kalau kita tidak melihat pencak silat selain bela diri, maka silat itu akan punah dengan sendirinya.

Generasi belakangan ini maunya mempelajari sesuatu yang ada manfaat buat dirinya. Kalau silat sebagai bela diri kan sulit. Kita sudah punya dasar hukum apalagi alat-alat bela diri lebih canggih seperti senjata api. Kalau silat sebagai bela diri tidak mungkin akan berkembang, paling hanya dapat bertahan. Sedangkan silat sebagai prestasi, paling banter hanya prestasi nasional. Prestasi internsional belum diakui, belum ada di Olympiade.

Karena itu MP mencoba melihat manfaat yang lain. Ternyata ada ilmu getaran, yang dapat kita aplikasikan untuk tuna netra. Berarti  kan melipatgandakan kegunaannya? Dengan mata yang dalam, tuna netra mampu meningkatkan mobilitasnya. Tidak menutup kemungkinan mereka mampu membaca majalah dengan huruf latin. Dengan tenaga getara ini bukan tidak mungkin seorang tuna netra nanti mampu mengoperasikan komputer.

Apa ilmu getaran ini bisa dipakai untuk menyerang?

Ini tergantung, Mas. Jangan terlalu sadis. Saya nanti dianggap terlalu sombong. Ilmu getaran ini nanti berkembang ke arah sesuatu yang masih kita sembunyikan, karena sangat berbahaya. Bahaya sekali, Mas……..

Kita berani mengeluarkannya karena sudah ada back-up pemikiran ilmiah. Kalau tidak pakai itu, nanti kita disangka ilmu magic. Padahal nggak, semua ada pemikiran ilmiah itu, kita bisa tahu bagaimana kemampuan tubuh kita. Bisa jadi kita sampai kesimpulan, bahwa kita ini robot paling canggih. Nah, kalau begitu kita akan bertanya siapa yang memprogram, siapa yang membuat… kan akhirnya ‘ke sana’ juga. Pencipta juga. Sekarang dengan ilmu getaran ini, anggota-anggota saya yang sudah jadi, mampu mendeteksi bahan peledak yang disembunyikan.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 6

Jadi apakah mematikan lampu dengan getaran itu juga bisa?

Suatu saat atau sekarang mungkin juga bisa mas. Sekarang ini kita juga kembangkan pukulan tanpa menyentuh. Jadi walaupun tangan kita tidak menyentuh benda yang kita arah dapat hancur. Sekarang sedang percobaan. Mungkin tahun depan kita keluarkan.

Apakah semua ini anda sudah milik sejak mulai latihan?

Ya tetapi sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan kepada kepada anggota asalnya kekuatan itu, saya tidak berani menjelaskan.

Artinya ilmu anda sudah mencapai tingkatan itu?

Bagaimana saya berani mengajar setir kalau saya tidak bisa mengajar setir, mas? Bahkan saya sering jadi kelinci percobaan. Tapi kadangkali saya bilang kepada mereka, kalau kalian mempelajari sesuatu, kalian harus yakin bisa melakukan, seperti ilmu getaran itu, itu kan menyatukan antara bahasa rasa dan logika. Itu sulit sekali. Dan mulanya memang ada keraguan itu. Toh nyatanya bisa. Sekarang banyak yang menguasai itu. Ilmu memecah benda tanpa menyentuh pun sudah banyak yang menguasai. Kalau dengan yoga orang bisa mengangkat badannya setengah meter dalam beberapa jam.  Ini nanti yang akan memecahkan rahasia ilmu ginkang. Rahasianya, kalau kita bisa mengalahkan magnet bumi dan kita tambah sedikit power tentu kita dapat melenting.

Kembali ke masa 50-an, metode pelatihan yang dipakai ayah anda?

Ilmu itu kita pilah-pilahkan. Jurus-jurus yang ada kita urai, antara gerakan silat yang menyerang atau bertahan. Kita beri nama sesuai sifatnya misalnya pukulan lurus, pukulan silang atau keprukan. Satu jurus itu kita anggap satu kalimat yang terdiri dari beberapa abjad. Semuanya kita pakai bahasa indonesia.

Sebelumnya tidak ada namanya?

Tidak ada. Saya mulai memberi nama 1968, ketika masih muda dan ayah masih hidup. Dengan dipecah-pecah jadi abjad ini anggote lebih mudah merangkai jurus sesuai yang diinginkan. Juga untuk lebih mengingatnya jadi lebih mudah. Kalau tidak ya sulit. Misalnya menjelaskan tendangan melingkar atas ke belakang. Kalau disebut bahasa indonesia kan sulit sekali. Maka dipakai isitilah circle atas. Atau bahasa jawa baku yang tidak di bahasa indonesiakan. Misalnya srimpet. Kalau bahasa indonesianya kan kaki kiri di depan kemudian kaki kiri ditarik kebelakang memutar melalui kaki kanan kembali kedapan. Ini namanya srimpet. Gerakannya  mau jatuh, padahal justru menghindari serangan sekaligus mendekati lawan. Jadi lawan posisi mati karena lawan tidak punya jarak menyerang kita.

Nah, kalau nama mp itu sendiri?

Itu ayah yang memberikan. Mp itu sendiri merupakan singkatan dari kepanjangan yang merupakan filosofi dasar perguruan kita. Mer itu dari mersudi. Pa dari patitising tindak pusakane titising hening. Kalau dijelaskan : mencari sampai mendapatkan tindakan yang benar dengan dasar ketenangan, kejiwaaan atau dasar keimanan. Ini memang berat. Sebab kita di ajar benar di atas yang benar salah di atas yang salah. Ini yang berat. Apalagi kalau dilihat situasi dan kondisi secara keseluruhannya, sangat sulit.

Apakah juga berdasar pada nilai-nilai kejawen?

Saya tidak melihat itu. Sebab sendiri punya keyakinan juga. Ketepatan saya ini kristen dan dibaptis sejak kecil. Ayah saya juga kristen. Selalu dalam suatu titik tertentu kita mengadakan dialog diri tadi, menempatkan diri kita dalam posisi sebenarnya. Sehingga saat itu mencapai klimaks, sehingga dalam doa itu kita merasa ada komunikasi dalam diri. Makanya ketika berdoa ada yang sampai menangis segala.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 7

Jadi doa itu bukan proses hubungan manusia dengan sesuatu yang sifatnya supernatural?

Ndak. Berdoa tergantung apa kebutuhan kita. Kalau kita terbentur masalah maka biasanya timbul kepasrahan. Makanya tidak ada doa minta kesaktian atau kemamuan memecah benda keras.

Kapan ayah anda meninggal?

Maret 1969. Tapi kayaknya dia sudah tahu waktu kematiannya saat itu saya sedang di Medan. Perasaan saya enggak enak ingin pulang. Saya pulang seminggu sebelum kematiannya. Ternyata entah apa, menurut ibu saya, sebelum meninggal ayah ingin bertemu saya. Keinginan ayah saya ini menimbulkan rasa kangen, tapi terpaksa pulang pada saat saya yang sedang di Medan. Ketika memijat ayah saya, beliau berkata,”aku arep lungan adoh. Apik-apik kowe kudu iso ngrumat adi-adimu. Sing guyub karo konco-konco. Mung emane kok katone ora menangi aku. Sesuk esuk aku arep istirahat.”

Waktu itu budi masih melatih di Brimob Porong. Saat itu ayah sudah bekerja di rumah sakit gajah mada. Ia ingin merasakan istirahat di zaal yang merupakan ide beliau. Pada saat itu ia tidak terlihat sakit. Diperiksa dokter juga tak sakit apa-apa. Ternyata ia meninggal di hadapan keluarga di zaal itu. Ia meninggal dengan senyuman yang sampai sekarang tidak saya bisa saya lupakan. Saya melihat ayah saya meninggal dengan kemuliaan dengan kepasrahan, tanpa semua kita tahu.

Apa ada pesan khusus pada anda?

Lewat keluarga saya, ayah melarang saya berpisah dengan budi, adik saya. Cuma watak kami berbeda jauh, saya pendiam, Budi wah…. Jadi seperti minyak dan air, sama-sama cari tapi berbeda. Nyatanya saMPai sekarang kami masih bersatu terus. Soal organisasi kami saling mengisi lewat diskusi keras.

Waktu tahun 1969 anda sudah melatih militer?

Sudah. Sejak 1966 kita sudah melatih di batalyon 403 di yogya, di kasi 1 korem juga.

Kapan MP pindah pusat ke Jakarta?

Oh itu ada riwayatnya. Pada awal 1976, saya didatangi tamu dari jakarta dari pasukan pengawal presiden. Datang lengkap dengan seragam dan mobil militer. Orang kaMPung kaget. Ternyata dia diutus pak Tjokropranolo yang saat itu menjadi ketua umum ipsi. Ia mengetahui kita pada 1973 sempat mengadakan penelitian ilmiah di akabri udara masalah power yang kita miliki.

Pada 1975, kita dipanggil ke jakarta. Saat itu beliau menjabat sebagai sekretaris militer presiden. Saya diperintahkan melatih pengawal presiden, mulai juli 1076. Akhir 1976 saya melatih rpkad. Pada hut abri 1978, rpkad yang sudah menjadi Kopassandha mendapat tugas peragaan kemampuan memecah benda keras seperti yang kita latih. Dari situlah nama MP berkembang di Jakarta. Ternyata kemampuan organisasi sekarang baru mulai mengejar. Jadi bukan ada orgnanisasi dulu. Untuk menghindarkan birokrasi yang berbelit, kita tidak pakai pengurus daerah(pengda). Kita dari cabang langsung ke pusat. Kalau jumlah anggotanya sudah banyak kita baru akan membentuk pengda. Data 1989, anggota MP sudah mencapai 180.000 lebih sekarang pasti lebih dari 200.000 anggota.

TaMPaknya MP dekat dengan militer?

Kita berprinsip menerima siapa pun yang mau berlatih. Ketepatan militer banyak yang berlatih di MP, seperti Kopassus tadi. Karena itu kita dekat dengan para Komandan Militer.

Tapi apakah tidak ada benturan, karena militer kan punya disiplin tersendiri?

Kalau dengan militer biasanya kita ada konsensus dengan atasannya. Kita tidak menekankan dengan disiplin MP. Tapi ada hal-hal yang perlu dilakukan. Misalnya murid militer tidak boleh jadi instruktur untuk umum. Karena program militer berbeda dengan program untuk umum.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 8

Apakah yang mengembangkan pada 1978 itu tetap orang-orang lama pada tahun 1968?
Oh ndak, sejak 1968 kita sudah punya bekal beberapa cabang di Yogya dan Madiun. jadi kita sudah punya modal beberapa pelatih. jadi kita mengirim pelatih-pelatih ke daerah-daerah.Suatu kebetulan kita berkembang dikalangan mahasiswa di UGM, ITS, semarang, bandung. Justru dari sinilah berkembangnya. Setelah selesai studi mereka bekerja di lain daerah dan membuka perguruan. Baru setelah itu mereka melapor kepada kita.

Jadi tidak ada izin khusus membuka cabang?
Ada. Jumlah cabang ini mempunyai anggota minimal 160 orang. Karena sebab cabang harus mampu menghidupi dirinya sendiri. Nah, ia hidup dari uang iuran anggota, sebab paling banter hanya 60-70 persen anggota yang membayar iuran.

Kenapa anggota berkembangnya lebih banyak dikalangan kelas menengah?
Ya memang. Jadi begini, kelas menengah ke atas ini lebih dominan karena ternyata latihan MP ini bayarannya mahal. dari peralatannya saja seperti uang seragam dan materi ujian seperti benda-benda keras itu kan mahal. seperti satu kikir itu saja harganya sudah Rp.6000,- padahal sekali uji coba ia perlu 8-9 kikir. belum beton atau balok es. Jadi satu orang sekali uji coba itu bisa menghabiskan Rp70.000 – Rp.80.000,- hanya untuk dihancurkan.

Tidak ada subsidi dari perguruan?
Subdisi dari mana, karena perguruan itu hidup dari uang iuran anggota? Sekarang kita sedang mendirikan yayasan agar bisa mem-back-up organisasi. Uang iuran anggota di Jakarta hanyaRp.2500,- untuk uang sewa gedung  sudah berapa belum ongkos transport pelatih.

Tapi bisa jadi kelompok ekslusif?
Kita tidak bisa mengkingkari kelompok menengah ini menjadi penyangga. Sementara kita ingin lebih ke kelompok bawah lagi. Ya harus dengan sistem subsidi. Kita harus mensubsidi orang yang mempunyai kemampuan dan loyalitas tinggi tapi kemampuan ekonominya pas-pasan. Uangnya tentu dari yayasan. Tapi sifat donatur ini sektoral. Jadi yang punya donatur itu cabang, bukan pusat. Cabang punya hak menerima dan mengelola donasi. Organisasi pusat punya badan pengawas keuangan.
Nanti kalau ada cabang yang seharusnya surplus jadi minus, badan ini akan mengontrol. Ini berjalan baik, buktinya setiap acara pusat, cabang pasti mengirim wakilnya. Memang soal biaya tinggi ini dapat menjadi kendala perkembangan MP ke semua golongan. Sekarang kita sedang kontak Depdikbud agar MP dapat kurikulum silat. Tentu saja pengajarannya disesuaikan dengan perkembangan usia. kalau siswa-siswa ini belajar MP kan jadi bendera MP, ini mungkin dapat mengurangi keinginan berkelahi di luar.

Bagaimana kalau ada  murid MP yang berlatih bela diri lain?
Ia kita haruskan memilih MP atau yang lain.

Jadi tak boleh merangkap?
Kita tak ingin ada clash dengan perguruan lain. Biasanya clash itu terjadi karena persoalan murid ini.

Sejak 1960-an ada sempalan MP?
Kalau dibilang perpecahan itu nggak ada. tapi bahwa ada murid mp yang membuat perguruan musiman itu memang ada. Ya silahkan saja. bahkan ada yang mencampu-campur ilmu MP dengan aliran lain. silahkan pakai nama lain dan jangan bawa-bawa nama MP.

Poerwoto Hadi Poernomo – Sang Pendekar 9

Aliran apa itu?

Saya tidak usah menyebutkan. mereka biasanya punya versi sendiri. Ada juga guru MP yang lari dengan anak buahnya. Tapi kemudian bubar sendiri. Saya memang dekat dengan banyak guru-guru tua seangkatan ayah saya. Apalagi waktu muda saya memang sering disuruh ayah belajar ilmu pada pendekar-pendekar tua itu. Kedekatan ini seringkali menimbulkan kerancuan. Seperti ada aliran yang memakai pernafasan MP, dikatakan mempunyai sumber yang sama dengan MP. Jadi saya dekat dengan perguruan-perguruan yang ada. Bahkan saya juga dekat dengan pendekar-pendekar yang tak punya perguruan seperti Kyai Suhada, gurunya Komar yang konon kebal peluru. Beliau memanggil saya Benu.
Dan dengan RM Harimurti, tokoh silat … ?(beberapa tulisan disini hilang karena majalahnya robek)
Ya, tapi karena beliau kastanya lebih tinggi, ada hambatan komunikasi. Wah saya diajak bicara nandiko-nandiko. .. mungkin dulu saya ada darah, tapi kan sudah keluar istana sejak lama.
Sekarang ini apakah masih banyak pendekar-pendekar di luar IPSI?
…. masih banyak. Masih banyak pendekar-pendekar yang mempunyai sifat tertutup, tidak mengembangkan diluar lingkungannya. Akibatnya kepandaiannya terbawa mati. Kita berusaha … ini. Kita harus menghilangkan … perguruan sendiri sebagai yang memang … memang ego perguruan itu selalu … sendiri punya. tapi bagaimana… saya pernah diajak Solihin GP ke Banten, Jawa Barat, wah di sana masih banyak jawara-jawara silat.
Lantas mengapa beberapa aliran silat sulit berkembang?
Rata-rata kelemahan pokok adalah organisasinya amburadul. Mereka harus menggunakan prinsip organisasi modern. Jenjang antara guru dan murid jangan dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Kalau murid punya kemampuan organisasi lebih baik, ya harus di beri kesempatan mengembangkan organisasi itu.
Perguruan pencak silat itu punya sistem sendiri. Bukan organisasi sosial, organisasi usaha ataupun ormas. Apalagi jenjang di tingkat perguruan amat berpengaruh. Seperti militer. Makanya menjalankan organisasi itu kita juga seperti militer. Hanya di MP setiap orang harus memahami AD/ART sehingga tahu hak dan kewajibannya.
Apakah bentuk organisasi modern dapat menghilangkan wibawa si guru?
Saya sendiri tak punya kekhawatiran itu. Saya tidak tahu pendekar yang lain. Tapi dia harus tahu bahwa bagaimanapun ia punya kelebihan di satu sisi. Saya misalnya. Di ilmu saya boleh unggul, tapi saya tidak bisa menjalankan komputer.
Dulu MP kan pernah ditantang Thai Boxing?
Oh dulu. Bukan dipertandingkan. Ketika itu Thai Boxing kan eksebisi di sini. Dia mengeluarkan tantangan. Saya tersinggung. Tamu kok nantang tuan rumah. Hanya saya waktu itu yang bereaksi. Saya kejar sampai ke mana-mana.
Waktu itu Istora saya sudah tunggu-tunggu untuk naik ke atas ring. Hanya saja penjagaan Polisi Militer saat itu sangat ketat. Besoknya saya di tangkap Pak Eddy Nalapraya (Komandan Garnizun DKI). Ditangkap secara halus, tentunya. Saya diajak ngobrol ngalor-ngidul. Tak tahunya pas saya bertemu Pak Eddy, itu para atlet disuruh pulang ke negaranya. Jam 5 saya dilepaskan, saya kejar ke HI dan Horison. tapi dia sudah pulang.
Sempat ketemu?
Sempat. Tapi promotornya bilang, ini kan hanya promosi. Saya marah sekali saat itu. Dan sesudah suara saya keluar di koran, beberapa puluh anak dari daerah datang mendukung saya. Mereka datang langsung ke tempat saya di Walpres. Tapi mereka kemudian ditahan di sana. Saya tuntut kedutaan Thai minta maaf. sayangnya, tak disampaikan ke sana. Yang megang IPSI.
Terakhir, dekat pemilu ini bagaimana kebijakan politik MP?

Banyak memang yang meminta kita ikut. Tapi kami membebaskan para anggota dalam menjalankan aspirasi politiknya. Hanya yang kami tegaskan, anggota kami tak boleh berkampanye dengan memakai atribut perguruan seperti seperti pada pemilu lalu. Ini yang sangat kami larang.

sumber : http://mppalembang.blogspot.com/

Wawancara dengan Tjahjo Sasongko

Sumber : JAKARTA JAKARTA N0.285 14-20 Desember 1991.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s