Liryk Lagu Westlife – If I Let You Go

[Shane:]
Day after day
Time passed away
And I just can’t get you off my mind
Nobody knows, I hide it inside
I keep on searching but I can’t find

[Mark:]
The courage to show to letting you know
I’ve never felt so much love before

[All (Shane lead):]
And once again I’m thinking about
Taking the easy way out

[All:]
But if I let you go I will never know
What my life would be holding you close to me
Will I ever see you smiling back at me?

([Shane:] oh yeah)
How will I know
[Shane:] if I let you go?
[Bryan:]
Night after night
I hear myself say
Why can’t this feeling just fade away
There’s no one like you (no one like you)
You speak to my heart (speak to my heart)
It’s such a shame we’re worlds apart

[Shane:]
I’m too shy to ask, I’m too proud to lose
But sooner or later I gotta choose
And once again I’m thinking about
Taking the easy way out

[All:]
But if I let you go I will never know
What my life would be, holding you close to me
Will I ever see you smiling back at
me? (oh yeah)
How will I know

[Shane:] if I let you go ?
[Shane:]
If I let you go ooooh baby
Ooooooooohhhhh
[Bryan:]
Once again I’m thinking about
Taking the easy way out
Ooooooooohhhhh

[All:]
But if I let you go I will never know
What my life would be, holding you close to me
([Mark:] close to me)
Will I ever see you smiling back at me?
([Shane:] oh yeah)
How will I know
([Bryan:] if I let you go?)
But if I let you go I will never know
([Mark:] oh baby)
Will I ever see you smiling back at me?
([Shane:] oh yeah)
How will I know
[Shane:] if I let you go ?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Bela Diri Nusantara dengan Kemasan Berbeda

Oleh : Randy Wirayudha – Okezone
Dewasa ini, banyak aliran-aliran beladiri dari luar (negeri), menginvasi Indonesia. Beladiri macam Karate, Judo, Taekwondo, Capoeira, Jiu-Jitsu, Aikido, Kempo, Muay-thai dan Vovinam, ternyata banyak menarik minat kaum muda Indonesia di era modern ini.
Sementara pencak silat sebagai warisan budaya beladiri bumi pertiwi, sedikit demi sedikit terkikis dari perhatian golongan muda. Pasalnya, dogma yang menyebut pencak silat sebagai beladiri yang ‘kampungan’, masih cukup melekat.
Silat juga kerap dianggap memiliki akar yang identik dengan suatu agama. Pandangan ini tidak bisa dipungkiri karena sebagian perguruan menggunakan atribut agama, seperti penggunaan mantra dan ritual-ritual yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan agama tertentu. Adanya penggunaan mantra-mantra itu juga membuat orang melihat Pencak Silat sebagai suatu aktivitas klenik. Sebab, itu tak heran bila segmentasi pencak silat kurang meluas.
Namun citra negatif itu perlahan terkikis dengan hadirnya seumlah perguruan silat yang lebih inklusif, dan modern, seperti Merpati Putih (MP). Perguruan ini, mengembangkan banyak hal untuk menghilangkan dogma negatif pencak silat. MP, mengemas metode dan materi latihan, yang sebenarnya bisa dikatakan, modern jika dibandingkan kebanyakan perguruan yang ada.
Modern karena semua keilmuan yang ada, didasarkan metode latihan yang bisa dikaji secara logis dan ilmiah, tanpa embel-embel ritual keagamaan atau yang berbau klenik. Selain itu, MP juga mengentaskan pembatasan anggota yang sebelumnya ‘terbatas’.
“Di tahun 60an sejak MP berdiri, kita terbilang lebih terbuka, karena kita menerima juga anggota-anggota ‘keturunan’, misalnya anggota yang punya darah Tionghoa, dan ‘bule’ juga. Walau begitu, kita enggak lari dari dasar keilmuan dan budaya sendiri, sebutlah sudah lebih multikultural. Dari suku bangsa maupun agama manapun, bisa tetap gabung, apalagi karena kita enggak pakai yang namanya ritual-ritual keagamaan atau yang bersifat klenik,” ungkap Nehemia Budi Setyawan, pewaris muda perguruan yang juga keponakan sang guru besar MP (Poerwoto Hadipoernomo).
Dengan memaksimalkan olah raga, olah napas dan olah rasa tanpa ritual-ritual yang ganjil, anggota-anggota MP bisa melakukan banyak hal unik dan menarik, serta bermanfaat bagi (tak hanya ke-atletan), tapi berbagai aspek kehidupan, seperti pematahan benda-benda keras, metode getaran yang kemudian mengarah ke metode gerakan tutup mata dan pendeteksian penyakit serta penyembuhan. Dan semua itu didapat hanya karena olah napas dari udara yang terhirup dari alam semesta.
“Power yang didapat dari latihan (MP) itu, asalnya sudah pasti dari oksigen. Dari oksigen yang kita hirup, diolah dalam sel darah menjadi energi dengan cara, mengejangkan diri (mengeraskan anggota tubuh), sehingga bekerja maksimal dan memunculkan ledakan energi tersembunyi dari dalam tubuh manusia yang namanya ATP (Adenosine Triphosphate),” jelas pria yang akrab di sapa Mas Hemi tersebut.
“Nah, dari situ, power dan energi ATP yang didapat, bisa merujuk kepada keilmuan getaran yang bisa bercabang pada beberapa hal yang bermanfaat, setelah merangkum latihan olah napas yang kita sebut, pembinaan dan pengolahan,” sambungnya.
Tak hanya sekedar teori atau pemaparan, bukti pengaplikasiannya, bahkan sudah dimulai pada tahun 1988 dan mulai ramai menjamur, di era 90an. Contohnya, di daerah Batu, Malang, terdapat sebuah kelompok latihan khusus tuna netra. Tujuannya bukan menyembuhkan kebutaan, tapi membantu ‘melek mata’ para penyandang tuna netra, dengan tutup mata yang berasal dari metode getaran.
Contoh kasus terdekat, mungkin Hemi sendiri, yang sejatinya mengalami buta warna sejak lahir. Dengan memanfaatkan getaran yang dimiliki, Mas Hemi punya kemampuan mengenal warna dan tentunya bangga, meski awalnya pernah merasa malu terhadap ‘kekurangan’ yang dia miliki. Hingga akhirnya, dia bisa menempuh pendidikan hingga kini berprofesi sebagai arsitek di sebuah perusahaan swasta.
“Pengaplikasian getaran bahkan saya gunakan sendiri untuk kehidupan pribadi. Saya ini aslinya ‘kan’ buta warna. Tapi dengan memanfaatkan getaran yang saya pelajari, saya bisa mengenal warna dan saya bangga bisa memaksimalkan apa yang saya punya,” aku pria kelahiran Yogyakarta, 37 tahun silam itu.
Seiring dengan berkembang dan mencapai masa jayanya, MP tetap tak tutup mata untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. MP punya penyesuaian khusus dan adaptasi dengan hal-hal kaku yang biasanya tak bisa ditolelir sebagian besar perguruan lain.
“Tentunya di era yang sudah semakin modern ini, MP harus bisa menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman. Ya intinya mengemas diri supaya lebih menarik. Misalnya, kita pernah coba bikin atraksi di tengah mal, dengan disertai alunan musik yang juga modern, bukan hentakan gendang tradisional. Kita juga menawarkan latihan yang lebih praktis, dengan tidak mempelajari semua metode dengan mendetil,” tambah penikmat hobi Fotografi tersebut.
Soal organisasi, MP bisa dibilang, salah satu perguruan yang punya manajemen paling rapi, terutama sejak tergabung ke IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Dengan keteraturan manajemen, MP bisa Go International dan bahkan sudah punya lebih dari 90 cabang di seluruh dunia.
“Hingga sekarang, kita punya 96 cabang, termasuk yang di luar Indonesia. Mereka tersebar di semua benua (kecuali Afrika). Di sana (Afrika), kita belum menjamah. Baru di Asia, Eropa, Amerika dan Oseania, tepatnya di New Caledonia,” terangnya lagi.
Merpati Putih, sedianya berasal dari sebuah akronim bahasa Jawa kromo, yakni ‘Mersudi Patitising Tidak Pusakane Titising Hening’, yang kira-kira artinya, mencari kebenaran dalam keheningan.Jika memang menggiati MP hingga puncak olah rasa dan karsa, tiap-tiap anggota, punya tafsiran masing-masing mengenai, apa arti hening bagi diri masing-masing. Begini pemaparan pribadi Hemi, perihal makna kata ‘hening’ yang dirangkumnya dari penjabaran dan wejangan dua guru besar – Alm. Budi Santoso dan Poerwoto.“Kesatuan pilu dan rasa, terbebas dari keterikatan menuju yang satu. Sama dengan tauhid totalitas tanpa embel-embel kesatuan pikir dan rasa, menimbulkan loncatan energi pada skala cipta (quantum),” paparnya.

Jurus Tunggal Baku dari IPSI

Diposting oleh Fithrorozi

Pada Kongres PERSILAT tahun 1998, Jurus Tunggal Baku ditetapkan menjadi salah satu kategori yang dipertandingkan. Jurus ini disusun oleh tim yang anggotanya terdiri dari pakar pencak silat dari empat negara pendiri PERSILAT, yaitu:

  • IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia)
  • PERSISI (Persekutuan Silat Singapura)
  • PESAKA (Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia)
  • PERSIB (Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei Darussalam)

Seluruh gerak yang terdapat di dalam jurus ini diharapkan dapat mewakili gerak pencak silat yang sudah disepakati sebagai beladiri asli dari kawasan Asia Tenggara. Di samping itu dengan adanya rangkaian jurus standar internasional ini dapat pula digunakan sebagai sarana pemersatu seluruh insan pencak silat.

Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antarabangsa yang telah ditetapkan dalam Rapat Teknik PERSILAT pada tanggal 26 September 1998 tersebut tidak boleh diubah oleh lembaga organisasi apapun kecuali oleh PERSILAT dan harus diikuti serta dilaksanakan oleh seluruh anggotanya, termasuk Indonesia sebagai salah satu Anggota Pendiri PERSILAT.

Namun, disebabkan Peraturan Pertandingan PERSILAT tersebut dirasakan masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu dijelaskan secara lebih rinci dalam teknis pelaksanaannya, maka pada MUNAS IPSI X yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 16 – 18 September 1999 disepakati perlunya diberikan penjelasan-penjelasan yang tidak mengubah secara prinsip peraturan pertandingan tersebut. Oleh sebab itu, maka Penjelasan Peraturan Pertandingan ini juga bersifat mengikat serta harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia dan semua jajarannya. Di bawah ini akan diuraikan peraturan tentang pertandingan pencak silat Antarabangsa kategori TUNGGAL yang diambil dari Penjelasan Peraturan Pertandingan hasil Munas.

PERATURAN PERTANDINGAN

Penggolongan Pertandingan dan Ketentuan tentang Umur

Penggolongan pertandingan Pencak Silat menurut umur dan jenis kelamin untuk semua kategori terdiri atas:

  • Pertandingan Golongan DEWASA untuk Putra dan Putri, berumur di atas 17 tahun s/d 35 tahun.
  • Pertandingan Golongan REMAJA untuk Putra dan Putri, berumur di atas 14 tahun s/d 17 tahun. Kebenaran tentang umur pesilat yang mengikuti pertandingan dibuktikan dengan Akte Kelahiran /Ijasah/ paspor (aslinya diperlihatkan pada saat pendaftaran).

Gelanggang

Pertandingan dapat dilaksanakan dalam gelanggang berupa lantai yang dilapisi matras dengan tebal maksimal 5 cm, permukaan rata dan tidak memantul, boleh ditutup dengan alas yang tidak licin, berukuran 10 m x 10 m dengan warna dasar hijau terang dan garis berwarna putih sesuai dengan keperluannya, disediakan oleh Komite Pelaksana. Gelanggang penampilan untuk kategori Tunggal adalah bidang gelanggang dengan ukuran 10 m x 10 m.

 

Pakaian

Pakaian Pencak Silat model standar, warna bebas dan polos (celana dan baju boleh dengan warna yang sama atau berbeda). Memakai ikat kepala dan kain samping warna polos atau bercorak. Pilihan dan kombinasi warna diserahkan kepada peserta. Boleh memakai badge IPSI di dada sebelah kiri.

 

Senjata

Golok atau parang dengan ukuran antara 30 cm s.d. 40 cm dan Tongkat terbuat dari rotan dengan ukuran panjang antara 150 cm s.d. 180 cm, dengan garis tengah 2,5 cm s.d. 3,5 cm.

 

Waktu Pertandingan

Waktu penampilan adalah 3 (tiga) menit.

 

Tata Cara Pertandingan

1.      Pelaksanaan pertandingan didahului dengan masuknya para Juri dari sebelah kanan Ketua Pertandingan dan setelah memberi hormat serta menyampaikan laporan tentang akan dimulainya tugas penjurian kepada Ketua Pertandingan, para Juri mengambil tempat yang telah ditentukan.

2.      Senjata yang akan dipergunakan sudah diperiksa dan disahkan oleh Ketua Pertandingan, kemudian diletakkan pada standar yang disediakan oleh Panitia Penyelenggara.

3.      Pesilat yang akan melakukan peragaan, memasuki gelanggang dari sebelah kiri Ketua Pertandingan, berjalan menurut adab yang ditentukan, menuju ke titik tengah gelanggang. Memberi hormat kepada Ketua Pertandingan dan selanjutnya berbalik untuk memberi hormat kepada para Juri.

4.      Sebelum peragaan dimulai Ketua Pertandingan memberi isyarat dengan bendera kuning kepada para Juri, Pengamat Waktu, dan Aparat Pertandingan lainnya agar bersiap untuk memulai tugas.

5.      Setelah selesainya pembukaan salam PERSILAT, gong tanda waktu dimulainya pertandingan dibunyikan, dan peserta pertandingan langsung melaksanakan peragaan tangan kosong dilanjutkan dengan bersenjata. Berakhirnya waktu yang ditetapkan ditandai dengan bunyi gong.

6.      Setelah waktu peragaan berakhir, pesilat memberi hormat kepada Juri dan Ketua Pertandingan dari titik tengah gelanggang, dan selanjutnya meninggalkan gelanggang dari sebelah kiri Ketua Pertandingan, berjalan menurut adab yang telah ditentukan.

7.      Para Juri kemudian memberikan penilaian untuk peragaan yang baru saja berlangsung selama 30 (tiga puluh) detik.

8.      Pengamat Waktu mencatat dan menandatangani formulir Catatan Waktu Peragaan Pesilat untuk disahkan oleh Ketua Pertandingan dan segera diumumkan untuk diketahui oleh Juri yang bertugas.

9.      Pembantu Gelanggang mengambil formulir hasil penilaian Juri dan menyerahkan kepada Dewan Juri.

10. Setelah selesai perhitungan para Juri meninggalkan tempatnya secara tertib menuju Ketua Pertandingan, memberi hormat dan melaporkan tentang selesainya pelaksanaan tugas. Selanjutnya para Juri meninggalkan gelanggang dari sebelah kiri Ketua Pertandingan.

 

Aturan Bertanding.

1.      Peserta menampilkan Jurus Tunggal Baku selama 3 (tiga) menit terdiri atas tangan kosong dan selanjutnya menggunakan senjata golok/parang dan tongkat. Toleransi kelebihan atau kekurangan waktu adalah 5 (lima) detik. Bila penampilan lebih dari batas toleransi waktu yang diberikan akan dikenakan hukuman.

2.      Jurus Tunggal Baku diperagakan menurut urutan gerak, kebenaran rincian teknik jurus tangan kosong dan bersenjata, irama gerak, kemantapan dan penjiwaan yang ditetapkan untuk jurus ini.

3.      Tidak diperkenankan bersuara selama waktu peragaan.

4.      Bila pesilat tidak dapat melanjutkan penampilannya karena kesalahannya, peragaan dihentikan oleh Ketua Pertandingan dan pesilat yang bersangkutan tidak mendapat nilai.

 

Hukuman, Undur Diri, dan Diskualifikasi

Hukuman pengurangan nilai dijatuhkan kepada peserta karena kesalahan terdiri atas:

a. Faktor kesalahan dalam rincian gerakan dan jurus.

  • Pengurangan nilai 1 (satu) dikenakan kepada peserta setiap kali yang bersangkutan melakukan kesalahan dalam rincian gerak dan kesalahan urutan rincian gerak.
  • Pengurangan nilai 1 (satu) dikenakan kepada peserta untuk setiap gerakan
  • yang tertinggal (tidak ditampilkan).
  • Pengurangan nilai 1 (satu) dikenakan kepada peserta setiap kali yang bersangkutan menampilkan urutan jurus yang salah.

b. Faktor Waktu (Peragaan kurang atau lebih dari 3 menit).

  • Penampilan kurang atau lebih dari 6 s.d. 15 detik dikenakan pengurangan nilai 10.
  • Penampilan kurang atau lebih dari 16 s.d. 30 detik dikenakan pengurangan nilai 15.
  • Penampilan kurang atau lebih dari di atas 30 detik dikenakan pengurangan nilai 20.

c. Faktor Lain-lain.

  • Pengurangan nilai 5 (lima) dikenakan kepada peserta setiap kali yang bersangkutan keluar dari gelanggang (10 m x 10 m).
  • Pengurangan nilai 5 (lima) dikenakan kepada peserta setiap kali yang bersangkutan lepas senjatanya di luar yang ditentukan.
  • Pengurangan nilai 5 (lima) dikenakan kepada peserta setiap kali yang bersangkutan memperdengarkan suara mulut (vokal).
  • Pengurangan nilai 10 (sepuluh) dikenakan kepada peserta yang memakai pakaian yang tidak sepenuhnya menurut ketentuan yang berlaku (tidak sempurna)

d. Undur Diri.

Pesilat dinyatakan undur diri apabila setelah tiga kali pemanggilan oleh Sekretaris Pertandingan tidak memasuki gelanggang untuk memperagakan Kategori Tunggal.

e. Diskualifikasi.

  • Penilaian terhadap peserta menjadi batal, bila setelah berakhirnya penampilan didapati bahwa ada jurus yang tidak dipergakan oleh peserta. Dalam hal ini peserta dikenakan hukuman diskualifikasi.
  • Pesilat yang memakai pakaian dan atau senjata yang menyimpang dari ketentuan pertandingan dinyatakan diskualifikasi.

Penilaian

Penilaian terdiri atas:

a. Nilai kebenaran yang mencakup unsur:

  • Kebenaran gerakan dalam setiap jurus.
  • Kebenaran urutan gerakan.
  • Kebenaran urutan jurus,

Nilai diperhitungkan dari jumlah gerakan Jurus Tunggal Baku (100 gerakan) dikurangi nilai kesalahan.

b. Nilai kemantapan yang mencakup unsur:

  • Kemantapan gerak.
  • Kemantapan irama gerak.
  • Kemantapan penghayatan gerak.
  • Kemantapan tenaga dan stamina.

Pemberian nilai antara 50 (lima puluh) s.d. 60 (enam puluh) angka yang dinilai secara total/terpadu di antara keempat unsur Kemantapan.

Penentuan dan Pengumuman Pemenang

  • Pemenang adalah peserta yang mendapat nilai tertinggi untuk penampilannya.
  • Bila terdapat nilai yang sama, pemenangnya adalah peserta dengan jumlah nilai kebenaran tertinggi.
  • Bila nilai masih tetap sama, pemenangnya adalah peserta yang mempunyai nilai kemantapan, penghayatan, dan stamina tertinggi.
  • Bila nilai masih tetap sama, pemenangnya adalah peserta dengan jumlah nilai hukuman terkecil untuk ketepatan waktu.
  • Bila nilai masih tetap sama, pemenangnya adalah peserta dengan jumlah nilai hukuman terkecil.
  • Bila nilai masih tetap sama, pemenangnya akan diundi oleh Ketua Pertandingan disaksikan oleh Delegasi Teknik, Dewan Juri, dan Tim Manajer pesilat yang bersangkutan.
  • Pengumuman nilai perolehan peserta setiap kategori disampaikan setelah para Juri menyelesaikan tugasnya menilai seluruh peserta pada setiap kategori Jurus Tunggal Baku.

Demikianlah sekilas mengenai peraturan pertandingan pencak silat kategori Tunggal. Pada edisi-edisi mendatang akan ditampilkan sekilas mengenai jurus tangan kosong, jurus golok, dan jurus tongkat.

Sumber : (Graspuzi, J.C. Umbu) / http://duel.melsa.net.id

Video Peragaan Tunggal Baku Saat Sea Games 2011